|| [Volume : 1] || Bagian Pertama ||
Saat itu aku terbangun dari tidur setelah
semalaman menonton maraton Anime yang
diberikan sahabat karibku, Naufal dan diri ini menyadari satu hal — tidak,
banyak hal telah terjadi dalam kurun waktu semalam saja.
Ketika bangun, aku mendengar anak-anak kecil
yang berteriak ‘jurus, bola api!’ lalu disusul dengan ledakan kecil
menggetarkan kasurku. Yah, mungkin itu efek suara dari film yang akan keluar
bulan depan karena di daerahku Sidoarjo, ada yang namanya pagelaran seni
perfilman setiap tahun.
“Sekarang giliranku! Giliranku!” seru seorang
gadis kecil dengan suara nyaring yang imut. “Jurus petir!!” pekiknya
bersemangat.
Dan tak perlu lama menunggu, gemuruh tiba-tiba
datang menggetarkan hati sebelum akhirnya sebuah petir bersuara agak mengerikan
menyambar tepat di sebelah rumahku — tunggu, sebelah rumah?
Tapi segera tak kupedulikan suara-suara aneh
tersebut karena tidak ada gunanya untukku mengetahui lebih banyak — aku harus
segera bersiap kuliah.
“Kakak!! Cepat bangun atau aku akan
terlambat!!” teriak seorang gadis dengan suara familiar di telinga.
“Iya!! Ini lagi ambil handuk!!” balasku tak
kalah nyaring.
Gadis yang berteriak agar aku segera bersiap
tadi adalah adikku, Nisa. Dia tumbuh dari seorang gadis kecil imut yang tembem
dan seperti ayam Kentucky berjalan
menjadi seorang gadis imut berkacamata yang kata-katanya sangat kejam dan
menohok hati.
Ya, setidaknya itu adalah alasan kenapa adik
perempuanku ini memiliki teman tidak sedikit meskipun kelakuannya yang menyakitkan
itu karena dia ikut organisasi OSIS di sekolahnya.
Dengan mata masih mengantuk aku berjalan turun
dari lantai dua menuju kamar mandiku di lantai satu — padahal ada kamar mandi
juga di lantai dua, sih. Tapi ... ayolah, suka-suka aku kan memilih mandi
dimana? Kan?
Oh ya, ngomong-ngomong, aku dan Nisa hanya
beda dua tahun saja daripada adik bungsu kami Badii yang beda umur tujuh tahun
jika kau tanya usiaku dan dia.
Jadi, sebagai kakak paling tua atau biasa
disebut anak sulung, sudah tugasku untuk mengorbankan tenaga, pikiran dan
segalanya agar kedua adikku ini mendapatkan kehidupan yang indah — meski
mengorbankan kehidupanku sendiri, sih.
Sudah, aku tidak akan curhat lebih panjang
karena ketika aku mandi, banyak orang yang mengatakan bahwa cara mandiku itu
tidak normal. Kenapa? Apa kau pernah mandi hanya dengan menggunakan waktu tiga
menit saja dan membuat kamar mandimu mengeluarkan asap dari air hangat shower? Tentu saja tidak.
“Cepat ganti pakaianmu, atau kalau tidak kita
akan telat!” ia mengatakan itu tanpa memandangku.
Yah, meski judes dan kadang menjengkelkan,
tetapi adik perempuanku ini tidak pernah sekalipun membantah perkataanku dan
yang paling kusuka darinya adalah ... dia bisa dijadikan bandar hutang ketika
bahan bakar motorku habis.
Tak lama kami berada di rumah berukuran
delapan kali sepuluh meter ini setelah Nisa kembali mengunci pintu pagar lalu
cepat-cepat masuk ke mobilku — eh? Tunggu, kenapa dia masuk begitu saja?
Bukannya kami selalu memakai motor matic ketika aku mengantarnya ke sekolah?
“Hoi, hoi, dik?” aku hendak protes. “Aku
sendiri sih nggak masalah pakai mobil, tapi kenapa?” lanjutku sambil membuka
pintu mobil sisi pengemudi.
“Ya-yah, begini, kak.” Woah, dia terlihat
malu-malu? Sangat jarang untuk Nisa bertingkah seperti itu.
“Ja-janji nggak ngomong ke Mama tentang ini
kan? I-itu ... soalnya—...”
“Ada cowok yang kamu suka? Bener, kan?”
sahutku singkat.
Nisa langsung menundukkan kepala lalu
mengangguk ringan membenarkan tebakanku. Ah, ternyata dia sudah dewasa, aku
sebagai kakak merasa bangga melihatnya tumbuh menjadi — eh?! Tunggu dulu,
tebakanku benar?!
“Wha—!! Hoi, siapa orangnya? Suruh dia tarung
dulu sama aku!” terkejut, tentu saja. Tapi sekarang aku agak kesal dengan orang
yang telah mencuri hati adik manisku ini — bukan berarti aku Siscon* loh ya.
“I-itu ... aku yang suka, kak. Di-dia ... —
“Oke, berangkat beib~....” potongku sebelum ia
menyelesaikan kalimat.
Udara pagi di Sidoarjo mungkin tidak se asri
tempat lain karena daerah ini bersebelahan dengan kota Surabaya yang notabene
adalah kota tersibuk kedua di Indonesia setelah Jakarta sang ibukota.
Meskipun begitu, dengan penanganan yang baik,
kota kelahiran adik laki-laki ku si Badii ini semakin lama tidak kukenal karena
banyak bangunan baru dibangun setiap minggunya.
Nisa, adik perempuanku yang kadang judes dan
menjengkelkan tapi sebenarnya baik dan suka memberi itu bersekolah di SMA ITP
Surabaya — kesempatannya menemukan seorang cowok ganteng di universitas yang
bersebelahan dengan sekolahnya sangatlah besar, itu yang harus diwaspadai.
Apalagi dengan kejadian sekitar seminggu yang
lalu dimana kancah dunia digemparkan dengan sebuah ledakan cahaya dari langit
yang menghancurkan seluruh satelit di bumi. Ya, serahkan itu kepada badan
organisasi luar angkasa karena membahasnya hanya akan menjadi pembicaraan
membosankan — tapi aku tertarik dengan itu, sih.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sekolah
Nisa karena jalanan agak lenggang hari ini entah kenapa. Saat adikku turun, ia
memintaku untuk menjemputnya memakai mobil yang kupakai sekarang agar si cowok yang
disukainya menaruh pandangan.
“Dasar, sekarang siapa yang gelagapan karena
cinta, heh?” sindirku dengan senyum yang menjengkelkan bagi Nisa.
Pada saat dia masih kelas 11 SMA, tepatnya
setahun yang lalu, aku masih mengingat pernah beradu argumen dengan Nisa
tentang indahnya jatuh cinta dan mengerikannya jatuh cinta lalu sekarang ...
semua berubah dalam sekejap mata saja.
[...]
Setelah mengantarkan Nisa ke sekolah, aku
langsung tancap gas ke salah satu proyek rumah yang sedang kukerjakan
belakangan ini. Kenapa kesana? Ya, kenapa tidak? Toh aku dapat menggoda para
gadis muda yang sedang berangkat kerja atau kuliah ketika diri ini senggang
disana.
Tetapi, saat membelah jalanan menggunakan
Acura NSX-ku yang notabene keluaran tahun 2015, jalan utama sangat macet dan
membuatku tak banyak pilihan selain bersabar menghadapi asap polusi dan suara
klakson motor orang lain.
Ngomong-ngomong, saat kejadian seminggu yang
lalu atau banyak orang memanggilnya ‘Cahaya Senja pertanda Kiamat’ itu
sangatlah indah. Maksudku, siapa juga yang tidak berpikiran sama ketika melihat
satu ledakan cahaya putih yang kemudian disusul oleh beberapa cahaya berwarna
lain seperti sebuah parade kembang api itu? Semua setuju kan?
Dan sehari setelahnya, banyak orang
mengeluhkan bahwa tubuh mereka langsung lemah atau letih berlebih hingga tidak
sedikit yang meminta ijin untuk beristirahat dirumah alias cuti sejenak. Yah,
karena kejadian itulah semua proyek-ku yang berjalan mengalami penundaan sekitar
tiga hari.
Mengesampingkan hal itu, ada satu lagi
fenomena luar biasa yang sangat diluar nalar terjadi pada tubuh manusia itu
sendiri. Mereka secara tidak sengaja mengaktifkan ‘kotak pandora’ yang
terbelenggu dan tersegel jauh dalam jiwa mereka.
Sihir yang biasa ada di dunia fantasi, komik
remaja dan novel tiba-tiba menjadi nyata. Mereka semua mampu menggunakan
bermacam sihir menakjubkan yang membantu keseharian manusia.
Kalian ingin contoh mudahnya? Tepat saat ini,
aku melihat seorang ibu-ibu pengendara motor menaruh kendaraannya di sebuah
penitipan kendaraan lalu terbang begitu saja seperti sosok pahlawan super di
komik anak-anak.
Tidak hanya itu, ada beberapa ‘orang’ yang
tiba-tiba berlari lebih cepat daripada mobil mewahku ini tanpa alas kaki — nah,
kalau yang ini aku sangat dongkol karena merasa percuma punya mobil balap tapi
jalanan macet luar biasa.
Kurasa aku — tidak, kami semua mendapatkan
‘berkah’ dari-Nya pada saat ini juga. Kemampuan diluar akal logika yang
tiba-tiba muncul begitu saja langsung mengubah tatanan dunia.
Oh, dan selama narasi tadi, aku sudah berada
di salah satu proyek-ku yang berada di jantung kota Surabaya — atau apalah itu
namanya.
Sebuah proyek gabungan untuk membuat satu mall
besar selain yang sudah ada di Mojokerto yang bersebelahan dengan mall lain.
Saat ini aku telah keluar dari mobil dan melihat beberapa tukang atau buruh
kasar mengangkat plat baja atau tulangan besi dengan satu tangan — padahal satu
dari mereka memiliki berat hampir ratusan kilo.
‘Kurasa perusahaan kendaraan berat akan segera
tutup bulan ini ... hehehehe.’
Yah, itu sih bukan masalah karena sejak awal
perusahaan kecil milik keluargaku lebih condong ke memanfaatkan kemampuan
manusia dibantu alat ketimbang memanfaatkan kecanggihan teknologi sekarang.
Jika kalian bertanya kenapa, maka aku hanya
perlu menjawabnya dengan ‘pengiritan uang’. Mungkin itu dua kata yang pas untuk
pertanyaan kalian.
“Loh, tumben Mas Dhaniy kesini pagi-pagi,”
salah seorang kuli bangunan menyapaku.
“Iya, biasanya kan waktu istirahat baru
kesini.” Seorang temannya yang masih mengunyah nasi dan sayur oseng-oseng
kangkung menambahkan.
“Tadi habis mengantar adik ke sekolah,”
tuturku sopan. “Oh ya, kayaknya sudah hampir jadi ya ini? Cepat juga.”
Menyapu pandangan dari kafe yang kukerjakan
dengan kafe lain yang belum jadi, rasa bangga tiba-tiba langsung menyelimuti hati
dan tak sadar senyum pun ikut terlukis di bibirku, membuat dua kuli yang sedang
makan itu ikut senang.
“Bos, nanti kalau proyek ini selesai, mobilnya
saya kembalikan ya?” si tukang yang tadi makan tiba-tiba unjuk suara setelah
hening sejenak.
“Lah? Kenapa? Kan enak toh, bisa—
“Bu-bukan gitu, Bos.” Sahutnya cepat.
“Sebenarnya, di kampung, saya jadi agak sungkan sama tetangga, istri saya jadi
bahan omongan, Bos.” Tuturnya dengan wajah muram.
Melihat itu aku hanya bisa tersenyum masam.
Untuknya yang sudah berada di kalangan menengah ke bawah selama hidup,
perubahan besar seperti saat ini membuat si kuli yang pekerja keras ini makin
ciut nyalinya menghadapi kejam dunia.
“Ya udah, deh.” Jawabku sopan. “Saya kasih
alamat ini, nanti kalau semua sudah beres, tolong parkirkan mobil saya disana,
oke pak?” ujarku memberi solusi.
Yah, sebenarnya sih ini satu diantara masalah
yang biasa terjadi ketika berada dalam lingkup kerja dengan proyek besar seperti
ini tapi ... bagaimana lagi? Kalau tidak ada mobil untuk angkut barang, masa
iya diangkut sendiri memakai tangan?
“Bos, maaf nih, saya mau tanya,” ujar si teman
kuli berhati-hati.
“Tentu, apa?”
“Um ... ini yang kejadian minggu kemarin itu
loh, yang ada cahaya di langit kan.” Tuturnya agak pelan. “jadi saya bingung,
kok tadi pagi saya kena setrum gak mati ya? Padahal baju saya sudah kayak gini
loh, Bos.” Sambungnya sambil menunjukkan kaos oblongnya yang robek-robek tak
karuan.
“Walah—!! Kok bisa kayak gitu?! Aje gile,
kang—!!” sambarku spontan.
Kaos oblong yang sudah lusuh itu makin seperti
kain lap yang tidak dicuci tapi tetap dipakai terus hingga tak berbentuk. Saat
aku menanyakan apakah ada yang salah dengan tubuh kuli-ku ini, dia hanya
menjawab, ketika dia dekat dengan alat listrik atau kabel, ia bisa merasakan
bahwa dirinya mampu menghidupkan peralatan tersebut hanya dengan menggunakan
tangan alias disentuh.
Dan benar saja, ketika aku menyerahkan ponsel
pintarku yang sudah sekarat kepadanya, tiba-tiba layar hitam itu langsung
memunculkan tanda bahwa alat elektronik tersebut sedang diisi ulang.
“Oke, kang. Ini mungkin panjang ceritanya tapi
... intinya, akang punya sihir mandraguna petir atau listrik.” Tuturku singkat
yang malah membuatnya kebingungan. “Pokoknya akang itu jadi manusia listrik
deh, jadi lebih greget!” sambungku sambil mengacungkan jempol.
Dia hanya mengangguk pelan seakan mengerti
sambil melihat ponsel pintar milikku yang digenggamnya terus mengisi daya. Seakan
tahu kekuatan baru didalam dirinya, kuli ku tadi langsung berdiri lalu
menatapku penuh semangat.
“Kalau begitu, Bos!” ucapnya terhenti karena
senyum lebar menghias wajah tuanya. “Di rumah nanti, saya gak perlu PLN dong
buat nyalain listrik?!” ia mengatakan itu dengan amat sangat teramat bangga.
Sementara aku hanya bisa tertawa kering
sebelum meminta ijin untuk pergi dari mall ke tempat lain, kedua kuli-ku tadi
saling mengobrol tentang kekuatan yang mereka dapatkan secara misterius setelah
kejadian seminggu yang lalu.
Semua tampak senang dengan kemampuan
supranaturalnya masing-masing tetapi entah kenapa ketika melihat kemampuan itu
diperlihatkan langsung kepadaku ... aku merasa iri.
Diantara mereka yang beruntung, pasti ada satu
atau dua orang yang terluka atau tidak beruntung dan pada masalah ini, akulah
orangnya.
Mampu menyemburkan api, memakai listrik untuk
mengisi ulang daya alat elektronik, memiliki kekuatan mengangkat benda terberat
di bumi dan yang lainnya ... diantara kemampuan mengagumkan itu ada aku yang
tetap menjadi manusia biasa.
Setelah kejadian itu, aku tidak merasakan ada
yang berbeda dari tubuh ini sedikitpun. Tidak ada gejala aneh — bahkan ketika
hampir seluruh manusia terserang keletihan berlebih, aku masih sehat dan tetap
bekerja seperti biasanya.
‘Ah, sebegitu bencinya kah Tuhan terhadapku?’
Tapi tak apa, meski tidak memiliki kekuatan
supranatural, setidaknya orang masih tetap ramah dan segan terhadapku dan itu
sudah cukup. Tidak perlu mengejar dunia terlalu serius karena kita semua tahu
bahwa sehebat apapun kita, tetap akan mati pada waktunya.
Selain itu, karena jalanan kini menjadi agak
lenggang akibat orang-orang berkemampuan supranatural — aku bisa memacu Acura
NSX-ku hingga kecepatan 120 kilometer perjam dan itu hebat! Maksudku, tidak ada
polisi yang menilang karena laju kendaraanku ini.
Mereka terlalu sibuk dengan perubahan hidup
mereka yang terlalu drastis dan mencolok yang membuat hampir semua orang
kegirangan akan fase baru itu. Sementara aku yang sedang membelah aspal hitam
diatas tanah ini hanya bisa tersenyum masam menghadapi kenyataan berat.
[...]
Membutuhkan waktu 15 menit untuk ke Institut
Agama Islam Negeri atau biasa disingkat sebagai universitas IAIN dari mall yang
sedang aku bangun di Wonokromo. Percaya atau tidak, kemampuanku mengemudikan
sebuah kendaraan — apapun itu, seperti menaiki Buroq atau yang biasa disebut kendaraan rasul terakhir dalam
agamaku.
Yah, tidak bermaksud melebihkan, tetapi kata
banyak temanku sih begitu jadi ... mau bagaimana lagi kan? Seorang pembalap
atau apapun itu adalah orang yang diakui banyak orang, bukan mengakui diri
sendiri.
Dan karena hal itu pula aku agak risih ketika
ada klien yang tahu akan reputasiku yang selalu tepat waktu atau bahkan datang
lima belas menit sebelum pertemuan dimulai. Bagaimana ya? Seperti ada beban
berat ketika aku hampir telat atau tidak memenuhi ekspektasi mereka.
Cukup sampai disana saja curhat kali ini
karena aku sudah berada di parkiran mobil universitas. Saat ini, beberapa
mahasiswa baru sepertiku pasti sedang ada di gedung serbaguna untuk pelajaran
biasa yang membosankan setelah orientasi awal atau MOS.
Jujur, sebenarnya sih bisa saja aku membeli
ijazah disini menggunakan uang tabungan karena jumlahnya tidak seberapa
dibandingkan dengan mengikuti kelas dan hal merepotkan lainnya tapi — bagaimana
aku bisa menceritakan pada orangtuaku yang sangat ingin melihat diri ini lulus
menggunakan topi sarjana tanpa melalui lika-likunya?
Lagipula, alasan lain yang sama kuatnya dengan
yang pertama milikku adalah karena ada beberapa mahasiswi cantik yang bisa
ditargetkan untuk menjadi pendamping hidupku nanti.
Dan juga, ada beberapa alasan lain yang tidak
akan aku sebutkan karena daftarnya sangat amat teramat panjang dan pasti
membuat kalian semua bosan mendengarkannya.
“Oh, Assalamu’alaikum, Dhaniy.” Seorang gadis
menyapa dari belakang.
Suaranya yang merdu dan sangat familiar itu
membuatku langsung menoleh kepadanya dan mengembalikan senyum manis tersebut
sebisa mungkin.
Namanya adalah Linda Nur Jannah, seorang gadis
tinggi berparas cantik dengan senyum mempesona yang dapat mencerahkan jiwa tiap
insan yang ditemuinya.
Hari ini dia menawan, sama seperti hari-hari
lainnya. Blouse berlengan panjang
yang menutup aurat berwarna biru laut itu tampak indah dipadukan dengan celana
hitam polos yang tak begitu ketat miliknya.
Tak lupa dia mengenakan jilbab Syar’i putih
yang sangat elegan namun sederhana. Meski hanya mengenakan lip gloss krem dan
bedak tipis, banyak pasang mata dari laki-laki yang curi pandang terhadap
penampilan Linda.
“Oh, Wa allaikum salam, Lin.”
Ia tersenyum setelah aku membalas salamnya,
wajar. Akan tetapi, yang membuatku bingung adalah Linda seperti sedang
menungguku untuk melakukan hal selain menatap wajah indahnya yang seperti
bidadari itu.
“Oh ya, gak ada kelas? Kok keliaran disini?”
ucapku memulai percakapan.
“Hehehe, bukannya gak ada, cuman belum waktunya
kok.” Ia menjawab manis. “Kamu sendiri? Tumben masuk pagi, biasanya kan kuliah
sore atau malam.” Sambungnya yang membuatku heran.
Sejak kapan dia tahu kebiasaanku mengambil
kelas sore atau malam? Ah, mungkin saja dia tidak sengaja berpapasan denganku
ketika membeli bahan makanan atau apapun itu namanya ketika diri ini sedang
bersiap menuju universitas, kan?
“Ya, begitulah.” “Hei, ustadzah yang baik gak
bakal keluyuran pagi-pagi kayak gini loh, mau aku temani sebentar buat ngopi
atau sarapan?”
Sekilas senyum sempat merekah di bibirnya tapi
langsung ditepis begitu saja ketika aku menyadari tingkah Linda yang agak aneh
belakangan ini. Sempat berpikir untuk menarik perkataan tapi semua itu kalah
cepat daripada anggukan gadis indah di depanku ini.
“Ayo, ayo! Tapi kamu ya yang bayarin aku? Ya,
ya?” ia mengatakan itu dengan semangat membara dan mata berbinar-binar.
Melihat sisi lain dari seorang primadona se
universitas membuatku kadang bersyukur sekaligus tidak tahu harus berbuat apa.
Linda sebenarnya bukanlah seorang gadis yang suka ditraktir oleh orang asing
tapi entah kenapa, sebagai teman masa SD-nya yang hingga kini masih bertegur
sapa, kehangatan jiwa saat mengobrol dengannya sangatlah tidak ternilai.
Ketika kami sampai di kantin kampus, sebagai
seorang pria akulah yang harus mencari tempat untuk duduk dan mengobrol
sementara Linda memesan makanan dan minuman untuk berdua.
Sekilas tapi samar, keberadaan kami berdua
sangatlah mencolok. Maksudku, diantara seribu lebih lelaki yang menimba ilmu
sekaligus mencari jodoh di universitas ini, hanya aku saja dan beberapa orang
lain yang beruntung dapat berbicara dengan primadona universitas.
“Maaf menunggu, nih! Cappucino seperti biasa
kan?” tuturnya sambil menyodorkan sebuah gelas berisi pesanan yang bahkan aku
belum pikirkan.
“Lin, boleh aku tanya sesuatu ke kamu? Ini
nggak terlalu penting sih, tapi kalau bisa tolong dijawab jujur ya?” ucapku
sambil memasang tampang serius.
Linda tampak gelagapan ketika aku membuat sesi
ngobrol santai kami menjadi serius dan entah kenapa serasa ada awan hitam yang
berkumpul dan menyesakkan paru-paru kami berdua saat bernafas — ah, para jomblo
kurang belaian itu, mereka iri padaku.
“Te-tentu saja, pokoknya kalau tidak nyeleneh
sih bakal aku jawab kok!”
Lampu hijau. Sekarang, tinggal menyusun kata
yang tepat untuk tidak terlalu membuat gadis polos nan anggun ini terkejut
dengan pertanyaan konyolku nanti.
“Sebenarnya ...” sial, kata-kataku terhenti di
tenggorokan! Ah, bodoh! Keluarkan sajalah, diriku! “... dari dulu aku penasaran,
apa kamu secantik ini?”
Setelah selesai mengatakan semua yang ada di
pikiranku, Linda sepertinya harus mendapatkan beberapa detik untuk menjawab
kekonyolanku ini dan saat ia sudah menangkap apa maksudku — mukanya langsung
tersipu dan ditundukkan sambil tangan kirinya mencoba untuk menghentikanku agar
melihat wajah imutnya itu.
“Ya-ya, maksudku, aku tahu kamu cantik, tapi
entah kenapa waktu berpapasan denganmu entah kapan atau dimana ... rasanya kamu
makin cantik tiap menitnya, deh.” Tuturku tulus.
“—Dha-dhaniy!!” sambarnya tiba-tiba. “Ka-kamu
sadar kan apa yang barusan kamu bilang?!” ia mencoba bertanya tanpa menatapku.
“Tentu lah! Sadar se sadar-sadarnya! Aku nggak
habis minum vodka atau oplosan kok! Gak sedikit pun!” aku menjawab mantap.
“Ka-kalau begitu ... a-aku ke kamar mandi
dulu—!!” ia mengatakan itu sambil menggebrak meja.
Setelah Linda pergi, aku merasakan tatapan
tajam menusuk yang mengarah kepadaku dari semua mata angin. Saat ini, pasti dan
tidak diragukan lagi bahwa aku adalah orang paling dibenci oleh baik laki-laki
maupun perempuan yang ada di universitas ini karena kesalah pahaman tadi.
‘Ck! Kurasa kalimatku salah, ya?’
Sedang asyik melamunkan apakah kalimat tadi
menyinggung Linda terlalu banyak atau tidak, aku sendiri tak sadar akan dua
orang laki-laki kampret yang biasa meminta uang ‘pajak’ pada mahasiswa baru
sepertiku ini.
“Ouy, ouy!! Jangan kira karena elu
kemarin-kemarin babat habis kita berdua, primadona universitas elu buat nangis,
ye!!” salah satu dari mereka yang memiliki rambut bergaya Spiky dengan kaos oblong abu-abu dan jaket Cardigan biru sambil
menggebrak meja.
“Iya tuh, bener! Kurang ajar banget!!” tambah
temannya yang berambut Punk dengan
tindik di hidung yang malah mirip tompel.
“Lah, kan cuman coba ngerayu doang, apa
salahnya? Dasar jomblo kurang belaian.” Kilahku dengan sarkasme diakhir
kalimat.
Kedua laki-laki itu makin berang karena
sikapku yang acuh dan kurang ajar di mata mereka namun tak perlu ambil pusing
karena satu-satunya cara yang bisa dipikirkan kroco berotak kecil seperti kedua
orang di depanku ini hanyalah satu — beradu kekuatan.
“Brengsek!! Ngajak berantem, hah?!” bentak si
tindik tompel, menggebrak mejaku lagi.
“... Loh, bukannya kalian berdua sudah pernah
merasakan tinjuku? Masih belum kapok ya masuk rumah sakit sampai-sampai rawat
inap? Kalian kan lemah banget.” Sahutku makin membuat suasana menjadi runyam.
Keduanya kehabisan kata-kata setelah aku
menghancurkan harga diri mereka sekali lagi. Memang benar bahwa aku pernah
melawan dua kakak kelas kroco yang sok jagoan ini dan mereka kalah — tapi
sepertinya mereka belum menyerah juga sih.
Untuk memperpendek urusan, kami bertiga
langsung keluar dari kantin dan mempersiapkan diri masing-masing untuk segera
berkelahi.
“Anak kacung! Beraninya elu ngomong kayak gitu
sama senior!!” si jaket Cardigan menghardik sambil menunjuk wajahku.
“Bakalan kita buat elu babak belur! Lihat
aja!!” kini giliran si tindik tompel unjuk bicara.
Tak ada komentar dariku, setidaknya tidak ada
selain tinju yang mengepal selaras di depan mata ditambah seringai kemenangan
yang sudah pasti ku raih.
“... Nah, siapa diantara kalian berdua yang
mau K.O duluan, hm?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar