Judul : Riza Sang Gadis Pemurung
Author : Bloody Rose
Genre : Slice Of Life, Supranatural, Tragedy, Drama.
Dia
selalu berada di pojokan gang sempit diantara toko kelontong dan
apartemen tempat aku tinggal. Aku juga selalu mencuri pandang saat ia
sedang asik membaca buku yang kelihatannya usang itu.
Saat itu,
aku sedang berjalan pulang dari tempat kerjaku dan menemukan ia membaca
buku.Gadis cantik berambut pirang dengan panjang sebahu itu terlihat
seperti merenungi sesuatu.Aku mencoba untuk mengumpulkan keberanianku
untuk berbicara padanya.
"Hai, boleh aku duduk disampingmu?" tanyaku sambil mencoba melirik parasnya yang indah.
"Tentu, silahkan."
Akhirnya aku berhasil duduk disampingnya. Namun, ada sesuatu yang sepertinya mengganggunya.
"Uh, aku Jonathan."
Aku mencoba memulai pembicaraan, namun sepertinya ia mencoba menghiraukanku.
"Uh, apa yang kau baca?" tanyaku sambil mencoba mendekatinya.
"Oh, ini adalah foto keluargaku."
Aku
langaung terkejut ketika mendengar itu darinya. Aku tidak tahu, namun
ia seperti merasa sedih ketika membolak-balik lembaran kertas usang itu.
Aku mencoba untuk melirik buku usang yang ia baca, mencoba untuk
memulai lagi pembicaraan.
"Riza, panggil aku Riza."
Aku agak terkejut ketika ia memberitahuku namanya. Akhirnya, ia bisa sedikit lebih terbuka untuk sebuah pembicaraan.
"Uh, siapa itu?"
Aku menunjuk seorang pria berkumis tebal yang kelihatannya seperti ayahnya atau... Suaminya yang mungkin telah tiada.
"Oh, orang ini adalah ayahku. Dia, dia meninggal tiga tahun yang lalu." Jelasnya.
"Uh, aku turut berduka."
"Heh, kau tidak perlu berduka untuk orang bejat seperti dia."
Aku agak heran ketika ia berkata bahwa ayahnya seorang yang seperti itu.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau menyebutnya begitu? Tanpanya kau tidak akan lahir-...
"Aku berharap tidak dilahirkan darinya."
Aku
menarik sebuah kursi kayu kecil untukku sendiri, sementara Riza duduk
di ranjangku yang agak reot. Ia menarik nafas sebelum melontarkan satu
kata pun, sementara aku menahan nafas karena rasa penasaran.
“Sebenarnya
aku tidak mau menceritakan ini tetapi… sepertinya kau adalah orang yang
baik.” Ucap Riza sambil menengok kearah luar jendela.
“Ya, ini
semua bermula ketika ibuku bertemu dengan seorang laki-laki di sebuah
bar kecil di kota ini. Lalu, mereka berdua bercengkrama hingga bar
hampir tutup.”
“Ibuku adalah perempuan ini, cantik bukan?” ucap
Riza sambil menunjuk seorang foto wanita yang wajahnya hampir mirip
dengan dirinya sendiri.
“Ya, setidaknya sekarang aku tahu dari mana kau memiliki wajah cantik itu.” Sahutku yang membuat Riza tersipu.
Ia
kembali bercerita tentang kehidupan keluarganya yang lumayan
menyedihkan itu. Aku iba padanya, tidak kuketahui bahwa diriku harus
bersyukur atas kehidupan normal yang di anugerahkan Tuhan padaku.
“Ayahku,
ia adalah seorang pemabuk yang tidak tahu diri. Ia seorang
pengangguran, namun ia tidak memiliki kemauan untuk keluar dari
jabatannya itu dan memilih untuk menghabiskan uang yang didapatkan ibu
dari bekerja di toko kelontong. Ia berjudi dan kalah, itu pun ia lakukan
hampir setiap hari setelah ibuku mendapatkan gajinya.”
“Pada
suatu saat, ibuku sedang mengandungku. Ia harus beristirahat karena aku
akan lahir ke dunia tidak lama lagi. Tetapi, ayahku… ia tega menyuruh
ibuku untuk bekerja meskipun ia tahu bahwa ibuku akan melahirkan.”
“Ke-kejam sekali dia…,” ucapku yang langsung bereaksi pada perkataannya.
“Maka
dari itu aku membencinya. Aku… setelah aku lahir, ayahku makin sering
melakukan kekerasan pada ibuku. Setiap malam ketika ia pulang dari kalah
berjudi, ia melampiaskannya kepada ibuku.”
“Hingga,… ibuku tidak bisa menerima kehidupan itu dan pergi meninggalkan ayahku.” Tambah Riza.
Saat
aku melihat kearah pipinya, sesuatu yang berkilau mulai turun dari pipi
mulus tersebut. Ia menangis, mungkin kenyataan dari cerita itu lebih
menyakitkan daripada saat ia menguntainya menjadi cerita untuk dibagikan
padaku.
“Hei, Aku iba padamu. Jika… jika pun kau tidak ingin
meneruskan ceritamu itu tidak apa, aku… tidak ingin melihatmu menangis
karena mengingat masa lalumu itu.” Ucapku sambil menepuk pelan bahunya.
Ia
menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, layaknya seseorang yang
meminta tolong ingin dikeluarkan dari jurang kenestapaan. Ya, tatapan
mata itulah yang saat ini terpancar dari pupil berwarna coklat karamel
milik Riza.
“Tidak, aku justru senang ketika kau mengatakan bahwa
ingin mendengar cerita sedihku ini. Aku… dari dulu aku juga tidak punya
seseorang yang spesial, bahkan aku merasa bahwa hidupku adalah sebuah
kehampaan yang mestinya lenyap dari muka bumi ini.” Ucapnya sambil
menundukkan kepala.
“Hei, jangan menangis oke? Nih,”
Aku
menyuguhkan secangkir kopi padanya. Kemudian, ia meminum kopi itu
sedikit demi sedikit dan akhirnya meletakkannya ke meja kecil sebelah
ranjangku.
“Hujannya… tidak reda juga yah?” kata Riza sambil memandang hujan yang masih deras.
“Ya, kalau begini… aku harus membersihkan sebagian kamar dahulu.” Sahutku sambil beranjak dari kursi kecil itu.
Aku
mulai mengambil beberapa kantung makanan kosong dan membuangnya ke
tempat sampah, lalu melipat pakaian-pakaianku yang tergeletak di sekitar
sofa dan ruang tengah.
“Uh, untuk apa? Aku akan pulang ketika malam datang.” Ucap Riza dengan wajah datar.
“Aku
tidak mengijinkan, seorang wanita sepertimu akan melalui bahaya ketika
berjalan malam-malam. Mungkin, akan ada orang yang ingin
mencelakakanmu.” Sahutku sambil melirik kearahnya.
“Satu-satunya
orang yang terlihat berbahaya untukku saat ini hanyalah kau, lagipula
aku sudah terbiasa berjalan sendiri saat malam.” Ucapnya sambil
mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.
“Terserahmu, aku sudah bilang bahwa aku adalah orang baik. Jadi, aku akan memaksamu untuk berteduh di sini hingga hujan reda.”
Ia
pun termenung mendengar perkataanku. Kemudian, saat aku sedang sibuk
merapikan pakaianku. Terdengar suara langkah kaki yang makin dekat,
setelah itu ada sepasang lengan yang melingkari leherku dengan lembut.
“Kau tahu, aku bersyukur bertemu dengan orang sepertimu.” Bisik Riza yang membuat diriku bergidik.
Aku
langsung terperanjat dari tempatku duduk dan menjauh beberapa senti
darinya. Aku mengarahkan sebuah penggantung pakaian padanya sebagai
pengganti senjata dan berlagak seperti seseorang yang sedang mengusir
hantu.
“Hm? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Riza sambil memiringkan bibir.
“Kau mengejutkanku tahu!” jawabku yang agak kesal dengannya.
Setelah
selesai merapikan kamarku yang terlihat mustahil. Aku pun kembali ke
dapur untuk membuat telur dadar, sedangkan Riza menonton televisi dan
melihat berita tentang ramalan cuaca hari ini.
“Huft! Sial, aku
harus menginap disini untuk semalam.” Ucap Riza yang tak sengaja
terdengar olehku saat akan mengantar makan malam ke meja dekat televisi.
“Eh? Mengapa?”
“Badai memburuk malam ini, jadi… terpaksa aku harus menginap.”
“Oh…
kalau begitu, bagaimana kalau kau meneruskan ceritamu? Bukankah itu
bisa menjadi sebuah pelarian untuk waktu yang membosankan ini?” usulku.
Riza
pun mengangguk, setelah kita berdua menghabiskan makan malam di depan
televisi bersama. Ia pun mengajakku untuk pergi ke kamar dan
mendengarkan lanjutan kisah masa lalunya.
“Jadi, sampai dimana kita tadi?” tanya Riza saat membuka album fotonya.
“Uh,… kau dan ibumu meninggalkan ayahmu.” Jawabku dengan singkat.
“Oh,
ya. Saat aku meninggalkan ayahku, hidupku dengan ibuku menjadi lebih
baik. Ya, itu semua adalah kebahagiaan yang kudapatkan setelah menderita
sekian lama.”
“Tetapi, itu semua tidaklah abadi. Suatu malam, ayahku
yang entah darimana ia tahu tentang rumah kami itu menggedor-gedor
pintu dan memaksa untuk masuk. Ia, meskipun ibuku meneriakinya dari
dalam rumah agar pergi ia menghiraukannya.”
“Ayahku, ia berusaha untuk masuk ke dalam rumah entah apa maunya.” Lanjut Riza dengan wajah murung.
“Setelah ibuku muak mendengar teriakan bodoh ayahku, ia membuka pintu.”
“Lalu, apa yang dilakukan ayahmu?” tanyaku yang tidak sengaja menyela perkataannya.
“Dia,
setelah ia masuk. Ia memarahi ibuku dan menamparnya. Ia… seakan ia
melampiaskan kekesalannya pada ibuku. Ia, ia memukuli ibuku dan aku pun
berusaha untuk melerai mereka.” Jelas Riza.
“Tetapi, karena aku
tahu bahwa diriku kurang kuat untuk menjauhkan ayahku yang dengan
kejinya memukuli ibuku itu. Aku pun mengambil sebuah pemukul baseball,
itu… aku memukul punggungnya dengan keras hingga ia menjerit kesakitan.”
“Lalu,
saat ia melihatku dengan tatapan mengerikannya. Aku pun menghajarnya
tepat di wajah dan membuatnya terpental beberapa senti menjauhi ibuku
yang kesakitan.”
“Dengan itu ia pun keluar dari rumah kami dengan
luka lebam di wajah. Aku, aku langsung melihat keadaan ibuku namun
ketika aku melihatnya… dia… dia sudah tidak bernafas.” Jelas Riza yang
lagi-lagi meneteskan air mata indah.
“Maaf, aku tidak tahu bahwa kau… begitu sengsara.” Ucapku saat menyodorkan selembar tisu.
Entah
kenapa aku merasa bahwa Riza adalah seseorang yang sangat menyedihkan.
Ia memiliki masa lalu yang lebih menyedihkan daripada aku, dan dia masih
bertahan didalam bayang-bayang masa lalu tersebut.
“Saat itu,
saat pemakaman ibuku… hanya beberapa tetangga yang hadir disana. Aku
menangis keras diatas kuburannya. Aku merasa tidak berdaya ketika ibuku
meninggalkan aku sendiri, aku… sangat ingin mengakhiri hidupku saat
itu.”
“Tetapi, aku tahu bahwa ibuku akan menghukumku jika aku
bunuh diri dan bertemu dengannya di surga. Jadi, aku… dengan itulah aku
bertahan sampai saat ini.”
“Lagipula, ayahku juga menyusul ibu yang sudah menunggu di surga.” Tambahnya dengan senyum kecil sinis.
“Eh? Apakah-,…
“Ayahku
mati ketika ia berusaha merampok sebuah toko kelontong. Ia,… tubuhnya
berantakan ketika ia tertabrak dan terlindas sebuah truk pengangkut
minyak .”
“Mengerikan…” sahutku dengan nada lirih.
“Hah!
Pria sepertinya memang layak mati seperti itu! Dialah yang membawaku
terlahir di dunia ini dan menderita! Dia… dia… dia pantas
mendapatkannya!” bentak Riza sambil menggenggam erat tisu yang kuberikan
padanya.
“Hei, meskipun begitu-…
“Apa? Bersyukur?! Apa yang harus kau syukuri darinya?!” bentak Riza dengan banjir air mata.
Aku
merasa bodoh, kenapa diriku berkata seperti itu dan yang terpenting
kenapa aku tidak mengetahui perasaannya saat ini. Aku merasa bersalah,
dan aku ingin menebusnya dengan caraku.
“Ya, setidaknya kau
bersyukur untuk apa yang diberikan Tuhan padamu. Kehidupanmu,
keteguhanmu untuk melewati semua itu. Itulah… yang harusnya kau
syukuri.” Jelasku sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.
Seketika
itu, aku merasakan bahwa badai sudah lama berhenti. Namun, karena sudah
terlalu malam. Riza pun menginap di kamarku, dia tidur di ranjang
sedangkan diriku tidur di sofa.
Kami berdua pun tertidur lelap
hingga mentari pagi yang sangat terik dan menyilaukan membangunkanku
dari tidur. Aku pun dengan malas beranjak dari sofa dan hendak ke kamar
untuk membangunkan Riza.
Namun, ketika aku sampai dan membuka selimut. Riza telah tidak ada, ia mungkin sudah pergi dari pagi.
‘Eh? Ini kan…’
Aku
dengan tidak sengaja menemukan album foto yang selalu dibawa oleh Riza.
Dengan cepat aku mengambil album tersebut dan berlari keluar kamar,
siapa tahu dia berada diluar apartemen dan sedang mencari album foto
yang kugenggam.
“Eh? Kenapa tidak ada? Dimana dia?”
Tak
lama kemudian, ada sebuah tangan yang meraih bahuku dari belakang.
Suaranya sangat kukenal, seketika aku pun berbalik menuju ke sumber
suara tersebut.
“Eh, ibu Hanner. Uh… apakah ibu melihat seorang
wanita yang biasanya duduk dan membaca buku di bangku ini?” tanyaku pada
seorang ibu-ibu berkulit kulit masam dan agak gemuk.
“Eh? Oh… maksudmu Riza?” jawab bu Hanner setelah jeda beberapa menit untuk mengingat siapa yang aku tanyakan.
“Ya! Itu dia! Apa ibu melihatnya?”
“Heh?... bukannya dia sudah meninggal tiga bulan yang lalu?” timpal bu Hanner yang mengejutkanku.
Aku
terperangah ketika bu Hanner mengatakan bahwa Riza yang kemarin malam
menginap di kamar apartemenku itu adalah seorang hantu yang sudah
meninggal tiga bulan yang lalu.
“Ta-tapi… dia kemarin malam menginap di kamarku!” ucapku dengan nada agak tinggi.
“He!~…
apa yang… mungkin benar rumor itu, ia masih menghantui beberapa
penghuni apartemen ini untuk mengatakan sesuatu.” Sahut bu Hanner dengan
mengernyitkan alis.
“Oh,… jadi, ya. Aku tahu apa yang ingin dia
katakan, dan… mungkin ini adalah hadiah untuk mendengarkannya.” Jelasku
sambil membuka lembaran dalam album foto yang biasa dilihat oleh Riza.
“Ah!,
album itu… dia selalu melihatnya dan menangis, aku tidak pernah lupa
karena itulah yang ia lakukan sebelum ia meninggal.” Timpal bu Hanner
sambil menunjuk album yang aku pegang.
“Bu Hanner… bisakah ibu… mengatakan sebab Riza mati?”
“Dia
gantung diri, dalam surat wasiatnya… ia berkata bahwa suatu saat ia
akan pergi ke surga dan berkumpul dengan ibunya lagi, aku sangat sedih
waktu itu… sayang sekali, padahal ia adalah wanita yang baik.” Jawab bu
Hanner sambil terisak.
Setelah itu, ada sebuah angin semilir yang
menerpa wajahku. Sebuah bisikan dari seseorang yang telah mati
terdengar samar oleh telingaku, seakan ia berusaha mengucapkan sesuatu
padaku.
Aku berbalik menuju sumber suara itu dan menemukan Riza
dengan gaun hitam sedang duduk di bangku yang biasa ia gunakan untuk
melihat album keluarganya, ia tersenyum lebar ketika melihatku
menangisinya.
“Terima kasih, telah mendengarkan cerita bodoh dan
menyedihkanku ini… Jonathan…,” bisiknya saat ia perlahan mulai lenyap
dari muka bumi ini.