Sabtu, 19 November 2016

Magical Things in a Boring World

|| [Volume : 1] || Bagian Pertama ||



Saat itu aku terbangun dari tidur setelah semalaman menonton maraton Anime yang diberikan sahabat karibku, Naufal dan diri ini menyadari satu hal — tidak, banyak hal telah terjadi dalam kurun waktu semalam saja.

Ketika bangun, aku mendengar anak-anak kecil yang berteriak ‘jurus, bola api!’ lalu disusul dengan ledakan kecil menggetarkan kasurku. Yah, mungkin itu efek suara dari film yang akan keluar bulan depan karena di daerahku Sidoarjo, ada yang namanya pagelaran seni perfilman setiap tahun.

“Sekarang giliranku! Giliranku!” seru seorang gadis kecil dengan suara nyaring yang imut. “Jurus petir!!” pekiknya bersemangat.

Dan tak perlu lama menunggu, gemuruh tiba-tiba datang menggetarkan hati sebelum akhirnya sebuah petir bersuara agak mengerikan menyambar tepat di sebelah rumahku — tunggu, sebelah rumah?

Tapi segera tak kupedulikan suara-suara aneh tersebut karena tidak ada gunanya untukku mengetahui lebih banyak — aku harus segera bersiap kuliah.

“Kakak!! Cepat bangun atau aku akan terlambat!!” teriak seorang gadis dengan suara familiar di telinga.
“Iya!! Ini lagi ambil handuk!!” balasku tak kalah nyaring.

Gadis yang berteriak agar aku segera bersiap tadi adalah adikku, Nisa. Dia tumbuh dari seorang gadis kecil imut yang tembem dan seperti ayam Kentucky berjalan menjadi seorang gadis imut berkacamata yang kata-katanya sangat kejam dan menohok hati.

Ya, setidaknya itu adalah alasan kenapa adik perempuanku ini memiliki teman tidak sedikit meskipun kelakuannya yang menyakitkan itu karena dia ikut organisasi OSIS di sekolahnya.

Dengan mata masih mengantuk aku berjalan turun dari lantai dua menuju kamar mandiku di lantai satu — padahal ada kamar mandi juga di lantai dua, sih. Tapi ... ayolah, suka-suka aku kan memilih mandi dimana? Kan?

Oh ya, ngomong-ngomong, aku dan Nisa hanya beda dua tahun saja daripada adik bungsu kami Badii yang beda umur tujuh tahun jika kau tanya usiaku dan dia.

Jadi, sebagai kakak paling tua atau biasa disebut anak sulung, sudah tugasku untuk mengorbankan tenaga, pikiran dan segalanya agar kedua adikku ini mendapatkan kehidupan yang indah — meski mengorbankan kehidupanku sendiri, sih.

Sudah, aku tidak akan curhat lebih panjang karena ketika aku mandi, banyak orang yang mengatakan bahwa cara mandiku itu tidak normal. Kenapa? Apa kau pernah mandi hanya dengan menggunakan waktu tiga menit saja dan membuat kamar mandimu mengeluarkan asap dari air hangat shower? Tentu saja tidak.

“Cepat ganti pakaianmu, atau kalau tidak kita akan telat!” ia mengatakan itu tanpa memandangku.

Yah, meski judes dan kadang menjengkelkan, tetapi adik perempuanku ini tidak pernah sekalipun membantah perkataanku dan yang paling kusuka darinya adalah ... dia bisa dijadikan bandar hutang ketika bahan bakar motorku habis.

Tak lama kami berada di rumah berukuran delapan kali sepuluh meter ini setelah Nisa kembali mengunci pintu pagar lalu cepat-cepat masuk ke mobilku — eh? Tunggu, kenapa dia masuk begitu saja? Bukannya kami selalu memakai motor matic ketika aku mengantarnya ke sekolah?

“Hoi, hoi, dik?” aku hendak protes. “Aku sendiri sih nggak masalah pakai mobil, tapi kenapa?” lanjutku sambil membuka pintu mobil sisi pengemudi.
“Ya-yah, begini, kak.” Woah, dia terlihat malu-malu? Sangat jarang untuk Nisa bertingkah seperti itu.
“Ja-janji nggak ngomong ke Mama tentang ini kan? I-itu ... soalnya—...”
“Ada cowok yang kamu suka? Bener, kan?” sahutku singkat.

Nisa langsung menundukkan kepala lalu mengangguk ringan membenarkan tebakanku. Ah, ternyata dia sudah dewasa, aku sebagai kakak merasa bangga melihatnya tumbuh menjadi — eh?! Tunggu dulu, tebakanku benar?!

“Wha—!! Hoi, siapa orangnya? Suruh dia tarung dulu sama aku!” terkejut, tentu saja. Tapi sekarang aku agak kesal dengan orang yang telah mencuri hati adik manisku ini — bukan berarti aku Siscon* loh ya.
“I-itu ... aku yang suka, kak. Di-dia ... —
“Oke, berangkat beib~....” potongku sebelum ia menyelesaikan kalimat.

Udara pagi di Sidoarjo mungkin tidak se asri tempat lain karena daerah ini bersebelahan dengan kota Surabaya yang notabene adalah kota tersibuk kedua di Indonesia setelah Jakarta sang ibukota.

Meskipun begitu, dengan penanganan yang baik, kota kelahiran adik laki-laki ku si Badii ini semakin lama tidak kukenal karena banyak bangunan baru dibangun setiap minggunya.

Nisa, adik perempuanku yang kadang judes dan menjengkelkan tapi sebenarnya baik dan suka memberi itu bersekolah di SMA ITP Surabaya — kesempatannya menemukan seorang cowok ganteng di universitas yang bersebelahan dengan sekolahnya sangatlah besar, itu yang harus diwaspadai.

Apalagi dengan kejadian sekitar seminggu yang lalu dimana kancah dunia digemparkan dengan sebuah ledakan cahaya dari langit yang menghancurkan seluruh satelit di bumi. Ya, serahkan itu kepada badan organisasi luar angkasa karena membahasnya hanya akan menjadi pembicaraan membosankan — tapi aku tertarik dengan itu, sih.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sekolah Nisa karena jalanan agak lenggang hari ini entah kenapa. Saat adikku turun, ia memintaku untuk menjemputnya memakai mobil yang kupakai sekarang agar si cowok yang disukainya menaruh pandangan.

“Dasar, sekarang siapa yang gelagapan karena cinta, heh?” sindirku dengan senyum yang menjengkelkan bagi Nisa.

Pada saat dia masih kelas 11 SMA, tepatnya setahun yang lalu, aku masih mengingat pernah beradu argumen dengan Nisa tentang indahnya jatuh cinta dan mengerikannya jatuh cinta lalu sekarang ... semua berubah dalam sekejap mata saja.

[...]

Setelah mengantarkan Nisa ke sekolah, aku langsung tancap gas ke salah satu proyek rumah yang sedang kukerjakan belakangan ini. Kenapa kesana? Ya, kenapa tidak? Toh aku dapat menggoda para gadis muda yang sedang berangkat kerja atau kuliah ketika diri ini senggang disana.

Tetapi, saat membelah jalanan menggunakan Acura NSX-ku yang notabene keluaran tahun 2015, jalan utama sangat macet dan membuatku tak banyak pilihan selain bersabar menghadapi asap polusi dan suara klakson motor orang lain.

Ngomong-ngomong, saat kejadian seminggu yang lalu atau banyak orang memanggilnya ‘Cahaya Senja pertanda Kiamat’ itu sangatlah indah. Maksudku, siapa juga yang tidak berpikiran sama ketika melihat satu ledakan cahaya putih yang kemudian disusul oleh beberapa cahaya berwarna lain seperti sebuah parade kembang api itu? Semua setuju kan?

Dan sehari setelahnya, banyak orang mengeluhkan bahwa tubuh mereka langsung lemah atau letih berlebih hingga tidak sedikit yang meminta ijin untuk beristirahat dirumah alias cuti sejenak. Yah, karena kejadian itulah semua proyek-ku yang berjalan mengalami penundaan sekitar tiga hari.

Mengesampingkan hal itu, ada satu lagi fenomena luar biasa yang sangat diluar nalar terjadi pada tubuh manusia itu sendiri. Mereka secara tidak sengaja mengaktifkan ‘kotak pandora’ yang terbelenggu dan tersegel jauh dalam jiwa mereka.

Sihir yang biasa ada di dunia fantasi, komik remaja dan novel tiba-tiba menjadi nyata. Mereka semua mampu menggunakan bermacam sihir menakjubkan yang membantu keseharian manusia.

Kalian ingin contoh mudahnya? Tepat saat ini, aku melihat seorang ibu-ibu pengendara motor menaruh kendaraannya di sebuah penitipan kendaraan lalu terbang begitu saja seperti sosok pahlawan super di komik anak-anak.

Tidak hanya itu, ada beberapa ‘orang’ yang tiba-tiba berlari lebih cepat daripada mobil mewahku ini tanpa alas kaki — nah, kalau yang ini aku sangat dongkol karena merasa percuma punya mobil balap tapi jalanan macet luar biasa.

Kurasa aku — tidak, kami semua mendapatkan ‘berkah’ dari-Nya pada saat ini juga. Kemampuan diluar akal logika yang tiba-tiba muncul begitu saja langsung mengubah tatanan dunia.

Oh, dan selama narasi tadi, aku sudah berada di salah satu proyek-ku yang berada di jantung kota Surabaya — atau apalah itu namanya.

Sebuah proyek gabungan untuk membuat satu mall besar selain yang sudah ada di Mojokerto yang bersebelahan dengan mall lain. Saat ini aku telah keluar dari mobil dan melihat beberapa tukang atau buruh kasar mengangkat plat baja atau tulangan besi dengan satu tangan — padahal satu dari mereka memiliki berat hampir ratusan kilo.

‘Kurasa perusahaan kendaraan berat akan segera tutup bulan ini ... hehehehe.’

Yah, itu sih bukan masalah karena sejak awal perusahaan kecil milik keluargaku lebih condong ke memanfaatkan kemampuan manusia dibantu alat ketimbang memanfaatkan kecanggihan teknologi sekarang.

Jika kalian bertanya kenapa, maka aku hanya perlu menjawabnya dengan ‘pengiritan uang’. Mungkin itu dua kata yang pas untuk pertanyaan kalian.

“Loh, tumben Mas Dhaniy kesini pagi-pagi,” salah seorang kuli bangunan menyapaku.
“Iya, biasanya kan waktu istirahat baru kesini.” Seorang temannya yang masih mengunyah nasi dan sayur oseng-oseng kangkung menambahkan.
“Tadi habis mengantar adik ke sekolah,” tuturku sopan. “Oh ya, kayaknya sudah hampir jadi ya ini? Cepat juga.”

Menyapu pandangan dari kafe yang kukerjakan dengan kafe lain yang belum jadi, rasa bangga tiba-tiba langsung menyelimuti hati dan tak sadar senyum pun ikut terlukis di bibirku, membuat dua kuli yang sedang makan itu ikut senang.

“Bos, nanti kalau proyek ini selesai, mobilnya saya kembalikan ya?” si tukang yang tadi makan tiba-tiba unjuk suara setelah hening sejenak.
“Lah? Kenapa? Kan enak toh, bisa—
“Bu-bukan gitu, Bos.” Sahutnya cepat. “Sebenarnya, di kampung, saya jadi agak sungkan sama tetangga, istri saya jadi bahan omongan, Bos.” Tuturnya dengan wajah muram.

Melihat itu aku hanya bisa tersenyum masam. Untuknya yang sudah berada di kalangan menengah ke bawah selama hidup, perubahan besar seperti saat ini membuat si kuli yang pekerja keras ini makin ciut nyalinya menghadapi kejam dunia.

“Ya udah, deh.” Jawabku sopan. “Saya kasih alamat ini, nanti kalau semua sudah beres, tolong parkirkan mobil saya disana, oke pak?” ujarku memberi solusi.

Yah, sebenarnya sih ini satu diantara masalah yang biasa terjadi ketika berada dalam lingkup kerja dengan proyek besar seperti ini tapi ... bagaimana lagi? Kalau tidak ada mobil untuk angkut barang, masa iya diangkut sendiri memakai tangan?

“Bos, maaf nih, saya mau tanya,” ujar si teman kuli berhati-hati.
“Tentu, apa?”
“Um ... ini yang kejadian minggu kemarin itu loh, yang ada cahaya di langit kan.” Tuturnya agak pelan. “jadi saya bingung, kok tadi pagi saya kena setrum gak mati ya? Padahal baju saya sudah kayak gini loh, Bos.” Sambungnya sambil menunjukkan kaos oblongnya yang robek-robek tak karuan.
“Walah—!! Kok bisa kayak gitu?! Aje gile, kang—!!” sambarku spontan.

Kaos oblong yang sudah lusuh itu makin seperti kain lap yang tidak dicuci tapi tetap dipakai terus hingga tak berbentuk. Saat aku menanyakan apakah ada yang salah dengan tubuh kuli-ku ini, dia hanya menjawab, ketika dia dekat dengan alat listrik atau kabel, ia bisa merasakan bahwa dirinya mampu menghidupkan peralatan tersebut hanya dengan menggunakan tangan alias disentuh.

Dan benar saja, ketika aku menyerahkan ponsel pintarku yang sudah sekarat kepadanya, tiba-tiba layar hitam itu langsung memunculkan tanda bahwa alat elektronik tersebut sedang diisi ulang.

“Oke, kang. Ini mungkin panjang ceritanya tapi ... intinya, akang punya sihir mandraguna petir atau listrik.” Tuturku singkat yang malah membuatnya kebingungan. “Pokoknya akang itu jadi manusia listrik deh, jadi lebih greget!” sambungku sambil mengacungkan jempol.

Dia hanya mengangguk pelan seakan mengerti sambil melihat ponsel pintar milikku yang digenggamnya terus mengisi daya. Seakan tahu kekuatan baru didalam dirinya, kuli ku tadi langsung berdiri lalu menatapku penuh semangat.

“Kalau begitu, Bos!” ucapnya terhenti karena senyum lebar menghias wajah tuanya. “Di rumah nanti, saya gak perlu PLN dong buat nyalain listrik?!” ia mengatakan itu dengan amat sangat teramat bangga.

Sementara aku hanya bisa tertawa kering sebelum meminta ijin untuk pergi dari mall ke tempat lain, kedua kuli-ku tadi saling mengobrol tentang kekuatan yang mereka dapatkan secara misterius setelah kejadian seminggu yang lalu.

Semua tampak senang dengan kemampuan supranaturalnya masing-masing tetapi entah kenapa ketika melihat kemampuan itu diperlihatkan langsung kepadaku ... aku merasa iri.

Diantara mereka yang beruntung, pasti ada satu atau dua orang yang terluka atau tidak beruntung dan pada masalah ini, akulah orangnya.

Mampu menyemburkan api, memakai listrik untuk mengisi ulang daya alat elektronik, memiliki kekuatan mengangkat benda terberat di bumi dan yang lainnya ... diantara kemampuan mengagumkan itu ada aku yang tetap menjadi manusia biasa.

Setelah kejadian itu, aku tidak merasakan ada yang berbeda dari tubuh ini sedikitpun. Tidak ada gejala aneh — bahkan ketika hampir seluruh manusia terserang keletihan berlebih, aku masih sehat dan tetap bekerja seperti biasanya.

‘Ah, sebegitu bencinya kah Tuhan terhadapku?’

Tapi tak apa, meski tidak memiliki kekuatan supranatural, setidaknya orang masih tetap ramah dan segan terhadapku dan itu sudah cukup. Tidak perlu mengejar dunia terlalu serius karena kita semua tahu bahwa sehebat apapun kita, tetap akan mati pada waktunya.

Selain itu, karena jalanan kini menjadi agak lenggang akibat orang-orang berkemampuan supranatural — aku bisa memacu Acura NSX-ku hingga kecepatan 120 kilometer perjam dan itu hebat! Maksudku, tidak ada polisi yang menilang karena laju kendaraanku ini.

Mereka terlalu sibuk dengan perubahan hidup mereka yang terlalu drastis dan mencolok yang membuat hampir semua orang kegirangan akan fase baru itu. Sementara aku yang sedang membelah aspal hitam diatas tanah ini hanya bisa tersenyum masam menghadapi kenyataan berat.

[...]

Membutuhkan waktu 15 menit untuk ke Institut Agama Islam Negeri atau biasa disingkat sebagai universitas IAIN dari mall yang sedang aku bangun di Wonokromo. Percaya atau tidak, kemampuanku mengemudikan sebuah kendaraan — apapun itu, seperti menaiki Buroq atau yang biasa disebut kendaraan rasul terakhir dalam agamaku.

Yah, tidak bermaksud melebihkan, tetapi kata banyak temanku sih begitu jadi ... mau bagaimana lagi kan? Seorang pembalap atau apapun itu adalah orang yang diakui banyak orang, bukan mengakui diri sendiri.

Dan karena hal itu pula aku agak risih ketika ada klien yang tahu akan reputasiku yang selalu tepat waktu atau bahkan datang lima belas menit sebelum pertemuan dimulai. Bagaimana ya? Seperti ada beban berat ketika aku hampir telat atau tidak memenuhi ekspektasi mereka.

Cukup sampai disana saja curhat kali ini karena aku sudah berada di parkiran mobil universitas. Saat ini, beberapa mahasiswa baru sepertiku pasti sedang ada di gedung serbaguna untuk pelajaran biasa yang membosankan setelah orientasi awal atau MOS.

Jujur, sebenarnya sih bisa saja aku membeli ijazah disini menggunakan uang tabungan karena jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan mengikuti kelas dan hal merepotkan lainnya tapi — bagaimana aku bisa menceritakan pada orangtuaku yang sangat ingin melihat diri ini lulus menggunakan topi sarjana tanpa melalui lika-likunya?

Lagipula, alasan lain yang sama kuatnya dengan yang pertama milikku adalah karena ada beberapa mahasiswi cantik yang bisa ditargetkan untuk menjadi pendamping hidupku nanti.

Dan juga, ada beberapa alasan lain yang tidak akan aku sebutkan karena daftarnya sangat amat teramat panjang dan pasti membuat kalian semua bosan mendengarkannya.

“Oh, Assalamu’alaikum, Dhaniy.” Seorang gadis menyapa dari belakang.

Suaranya yang merdu dan sangat familiar itu membuatku langsung menoleh kepadanya dan mengembalikan senyum manis tersebut sebisa mungkin.

Namanya adalah Linda Nur Jannah, seorang gadis tinggi berparas cantik dengan senyum mempesona yang dapat mencerahkan jiwa tiap insan yang ditemuinya.

Hari ini dia menawan, sama seperti hari-hari lainnya. Blouse berlengan panjang yang menutup aurat berwarna biru laut itu tampak indah dipadukan dengan celana hitam polos yang tak begitu ketat miliknya.

Tak lupa dia mengenakan jilbab Syar’i putih yang sangat elegan namun sederhana. Meski hanya mengenakan lip gloss krem dan bedak tipis, banyak pasang mata dari laki-laki yang curi pandang terhadap penampilan Linda.

“Oh, Wa allaikum salam, Lin.”

Ia tersenyum setelah aku membalas salamnya, wajar. Akan tetapi, yang membuatku bingung adalah Linda seperti sedang menungguku untuk melakukan hal selain menatap wajah indahnya yang seperti bidadari itu.

“Oh ya, gak ada kelas? Kok keliaran disini?” ucapku memulai percakapan.
“Hehehe, bukannya gak ada, cuman belum waktunya kok.” Ia menjawab manis. “Kamu sendiri? Tumben masuk pagi, biasanya kan kuliah sore atau malam.” Sambungnya yang membuatku heran.

Sejak kapan dia tahu kebiasaanku mengambil kelas sore atau malam? Ah, mungkin saja dia tidak sengaja berpapasan denganku ketika membeli bahan makanan atau apapun itu namanya ketika diri ini sedang bersiap menuju universitas, kan?

“Ya, begitulah.” “Hei, ustadzah yang baik gak bakal keluyuran pagi-pagi kayak gini loh, mau aku temani sebentar buat ngopi atau sarapan?”

Sekilas senyum sempat merekah di bibirnya tapi langsung ditepis begitu saja ketika aku menyadari tingkah Linda yang agak aneh belakangan ini. Sempat berpikir untuk menarik perkataan tapi semua itu kalah cepat daripada anggukan gadis indah di depanku ini.

“Ayo, ayo! Tapi kamu ya yang bayarin aku? Ya, ya?” ia mengatakan itu dengan semangat membara dan mata berbinar-binar.

Melihat sisi lain dari seorang primadona se universitas membuatku kadang bersyukur sekaligus tidak tahu harus berbuat apa. Linda sebenarnya bukanlah seorang gadis yang suka ditraktir oleh orang asing tapi entah kenapa, sebagai teman masa SD-nya yang hingga kini masih bertegur sapa, kehangatan jiwa saat mengobrol dengannya sangatlah tidak ternilai.

Ketika kami sampai di kantin kampus, sebagai seorang pria akulah yang harus mencari tempat untuk duduk dan mengobrol sementara Linda memesan makanan dan minuman untuk berdua.

Sekilas tapi samar, keberadaan kami berdua sangatlah mencolok. Maksudku, diantara seribu lebih lelaki yang menimba ilmu sekaligus mencari jodoh di universitas ini, hanya aku saja dan beberapa orang lain yang beruntung dapat berbicara dengan primadona universitas.

“Maaf menunggu, nih! Cappucino seperti biasa kan?” tuturnya sambil menyodorkan sebuah gelas berisi pesanan yang bahkan aku belum pikirkan.
“Lin, boleh aku tanya sesuatu ke kamu? Ini nggak terlalu penting sih, tapi kalau bisa tolong dijawab jujur ya?” ucapku sambil memasang tampang serius.

Linda tampak gelagapan ketika aku membuat sesi ngobrol santai kami menjadi serius dan entah kenapa serasa ada awan hitam yang berkumpul dan menyesakkan paru-paru kami berdua saat bernafas — ah, para jomblo kurang belaian itu, mereka iri padaku.

“Te-tentu saja, pokoknya kalau tidak nyeleneh sih bakal aku jawab kok!”

Lampu hijau. Sekarang, tinggal menyusun kata yang tepat untuk tidak terlalu membuat gadis polos nan anggun ini terkejut dengan pertanyaan konyolku nanti.

“Sebenarnya ...” sial, kata-kataku terhenti di tenggorokan! Ah, bodoh! Keluarkan sajalah, diriku! “... dari dulu aku penasaran, apa kamu secantik ini?”

Setelah selesai mengatakan semua yang ada di pikiranku, Linda sepertinya harus mendapatkan beberapa detik untuk menjawab kekonyolanku ini dan saat ia sudah menangkap apa maksudku — mukanya langsung tersipu dan ditundukkan sambil tangan kirinya mencoba untuk menghentikanku agar melihat wajah imutnya itu.

“Ya-ya, maksudku, aku tahu kamu cantik, tapi entah kenapa waktu berpapasan denganmu entah kapan atau dimana ... rasanya kamu makin cantik tiap menitnya, deh.” Tuturku tulus.
“—Dha-dhaniy!!” sambarnya tiba-tiba. “Ka-kamu sadar kan apa yang barusan kamu bilang?!” ia mencoba bertanya tanpa menatapku.
“Tentu lah! Sadar se sadar-sadarnya! Aku nggak habis minum vodka atau oplosan kok! Gak sedikit pun!” aku menjawab mantap.
“Ka-kalau begitu ... a-aku ke kamar mandi dulu—!!” ia mengatakan itu sambil menggebrak meja.

Setelah Linda pergi, aku merasakan tatapan tajam menusuk yang mengarah kepadaku dari semua mata angin. Saat ini, pasti dan tidak diragukan lagi bahwa aku adalah orang paling dibenci oleh baik laki-laki maupun perempuan yang ada di universitas ini karena kesalah pahaman tadi.

‘Ck! Kurasa kalimatku salah, ya?’

Sedang asyik melamunkan apakah kalimat tadi menyinggung Linda terlalu banyak atau tidak, aku sendiri tak sadar akan dua orang laki-laki kampret yang biasa meminta uang ‘pajak’ pada mahasiswa baru sepertiku ini.

“Ouy, ouy!! Jangan kira karena elu kemarin-kemarin babat habis kita berdua, primadona universitas elu buat nangis, ye!!” salah satu dari mereka yang memiliki rambut bergaya Spiky dengan kaos oblong abu-abu dan jaket Cardigan biru sambil menggebrak meja.
“Iya tuh, bener! Kurang ajar banget!!” tambah temannya yang berambut Punk dengan tindik di hidung yang malah mirip tompel.
“Lah, kan cuman coba ngerayu doang, apa salahnya? Dasar jomblo kurang belaian.” Kilahku dengan sarkasme diakhir kalimat.

Kedua laki-laki itu makin berang karena sikapku yang acuh dan kurang ajar di mata mereka namun tak perlu ambil pusing karena satu-satunya cara yang bisa dipikirkan kroco berotak kecil seperti kedua orang di depanku ini hanyalah satu — beradu kekuatan.

“Brengsek!! Ngajak berantem, hah?!” bentak si tindik tompel, menggebrak mejaku lagi.
“... Loh, bukannya kalian berdua sudah pernah merasakan tinjuku? Masih belum kapok ya masuk rumah sakit sampai-sampai rawat inap? Kalian kan lemah banget.” Sahutku makin membuat suasana menjadi runyam.

Keduanya kehabisan kata-kata setelah aku menghancurkan harga diri mereka sekali lagi. Memang benar bahwa aku pernah melawan dua kakak kelas kroco yang sok jagoan ini dan mereka kalah — tapi sepertinya mereka belum menyerah juga sih.

Untuk memperpendek urusan, kami bertiga langsung keluar dari kantin dan mempersiapkan diri masing-masing untuk segera berkelahi.

“Anak kacung! Beraninya elu ngomong kayak gitu sama senior!!” si jaket Cardigan menghardik sambil menunjuk wajahku.
“Bakalan kita buat elu babak belur! Lihat aja!!” kini giliran si tindik tompel unjuk bicara.

Tak ada komentar dariku, setidaknya tidak ada selain tinju yang mengepal selaras di depan mata ditambah seringai kemenangan yang sudah pasti ku raih.


“... Nah, siapa diantara kalian berdua yang mau K.O duluan, hm?”