Sabtu, 19 November 2016

Magical Things in a Boring World

|| [Volume : 1] || Bagian Pertama ||



Saat itu aku terbangun dari tidur setelah semalaman menonton maraton Anime yang diberikan sahabat karibku, Naufal dan diri ini menyadari satu hal — tidak, banyak hal telah terjadi dalam kurun waktu semalam saja.

Ketika bangun, aku mendengar anak-anak kecil yang berteriak ‘jurus, bola api!’ lalu disusul dengan ledakan kecil menggetarkan kasurku. Yah, mungkin itu efek suara dari film yang akan keluar bulan depan karena di daerahku Sidoarjo, ada yang namanya pagelaran seni perfilman setiap tahun.

“Sekarang giliranku! Giliranku!” seru seorang gadis kecil dengan suara nyaring yang imut. “Jurus petir!!” pekiknya bersemangat.

Dan tak perlu lama menunggu, gemuruh tiba-tiba datang menggetarkan hati sebelum akhirnya sebuah petir bersuara agak mengerikan menyambar tepat di sebelah rumahku — tunggu, sebelah rumah?

Tapi segera tak kupedulikan suara-suara aneh tersebut karena tidak ada gunanya untukku mengetahui lebih banyak — aku harus segera bersiap kuliah.

“Kakak!! Cepat bangun atau aku akan terlambat!!” teriak seorang gadis dengan suara familiar di telinga.
“Iya!! Ini lagi ambil handuk!!” balasku tak kalah nyaring.

Gadis yang berteriak agar aku segera bersiap tadi adalah adikku, Nisa. Dia tumbuh dari seorang gadis kecil imut yang tembem dan seperti ayam Kentucky berjalan menjadi seorang gadis imut berkacamata yang kata-katanya sangat kejam dan menohok hati.

Ya, setidaknya itu adalah alasan kenapa adik perempuanku ini memiliki teman tidak sedikit meskipun kelakuannya yang menyakitkan itu karena dia ikut organisasi OSIS di sekolahnya.

Dengan mata masih mengantuk aku berjalan turun dari lantai dua menuju kamar mandiku di lantai satu — padahal ada kamar mandi juga di lantai dua, sih. Tapi ... ayolah, suka-suka aku kan memilih mandi dimana? Kan?

Oh ya, ngomong-ngomong, aku dan Nisa hanya beda dua tahun saja daripada adik bungsu kami Badii yang beda umur tujuh tahun jika kau tanya usiaku dan dia.

Jadi, sebagai kakak paling tua atau biasa disebut anak sulung, sudah tugasku untuk mengorbankan tenaga, pikiran dan segalanya agar kedua adikku ini mendapatkan kehidupan yang indah — meski mengorbankan kehidupanku sendiri, sih.

Sudah, aku tidak akan curhat lebih panjang karena ketika aku mandi, banyak orang yang mengatakan bahwa cara mandiku itu tidak normal. Kenapa? Apa kau pernah mandi hanya dengan menggunakan waktu tiga menit saja dan membuat kamar mandimu mengeluarkan asap dari air hangat shower? Tentu saja tidak.

“Cepat ganti pakaianmu, atau kalau tidak kita akan telat!” ia mengatakan itu tanpa memandangku.

Yah, meski judes dan kadang menjengkelkan, tetapi adik perempuanku ini tidak pernah sekalipun membantah perkataanku dan yang paling kusuka darinya adalah ... dia bisa dijadikan bandar hutang ketika bahan bakar motorku habis.

Tak lama kami berada di rumah berukuran delapan kali sepuluh meter ini setelah Nisa kembali mengunci pintu pagar lalu cepat-cepat masuk ke mobilku — eh? Tunggu, kenapa dia masuk begitu saja? Bukannya kami selalu memakai motor matic ketika aku mengantarnya ke sekolah?

“Hoi, hoi, dik?” aku hendak protes. “Aku sendiri sih nggak masalah pakai mobil, tapi kenapa?” lanjutku sambil membuka pintu mobil sisi pengemudi.
“Ya-yah, begini, kak.” Woah, dia terlihat malu-malu? Sangat jarang untuk Nisa bertingkah seperti itu.
“Ja-janji nggak ngomong ke Mama tentang ini kan? I-itu ... soalnya—...”
“Ada cowok yang kamu suka? Bener, kan?” sahutku singkat.

Nisa langsung menundukkan kepala lalu mengangguk ringan membenarkan tebakanku. Ah, ternyata dia sudah dewasa, aku sebagai kakak merasa bangga melihatnya tumbuh menjadi — eh?! Tunggu dulu, tebakanku benar?!

“Wha—!! Hoi, siapa orangnya? Suruh dia tarung dulu sama aku!” terkejut, tentu saja. Tapi sekarang aku agak kesal dengan orang yang telah mencuri hati adik manisku ini — bukan berarti aku Siscon* loh ya.
“I-itu ... aku yang suka, kak. Di-dia ... —
“Oke, berangkat beib~....” potongku sebelum ia menyelesaikan kalimat.

Udara pagi di Sidoarjo mungkin tidak se asri tempat lain karena daerah ini bersebelahan dengan kota Surabaya yang notabene adalah kota tersibuk kedua di Indonesia setelah Jakarta sang ibukota.

Meskipun begitu, dengan penanganan yang baik, kota kelahiran adik laki-laki ku si Badii ini semakin lama tidak kukenal karena banyak bangunan baru dibangun setiap minggunya.

Nisa, adik perempuanku yang kadang judes dan menjengkelkan tapi sebenarnya baik dan suka memberi itu bersekolah di SMA ITP Surabaya — kesempatannya menemukan seorang cowok ganteng di universitas yang bersebelahan dengan sekolahnya sangatlah besar, itu yang harus diwaspadai.

Apalagi dengan kejadian sekitar seminggu yang lalu dimana kancah dunia digemparkan dengan sebuah ledakan cahaya dari langit yang menghancurkan seluruh satelit di bumi. Ya, serahkan itu kepada badan organisasi luar angkasa karena membahasnya hanya akan menjadi pembicaraan membosankan — tapi aku tertarik dengan itu, sih.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sekolah Nisa karena jalanan agak lenggang hari ini entah kenapa. Saat adikku turun, ia memintaku untuk menjemputnya memakai mobil yang kupakai sekarang agar si cowok yang disukainya menaruh pandangan.

“Dasar, sekarang siapa yang gelagapan karena cinta, heh?” sindirku dengan senyum yang menjengkelkan bagi Nisa.

Pada saat dia masih kelas 11 SMA, tepatnya setahun yang lalu, aku masih mengingat pernah beradu argumen dengan Nisa tentang indahnya jatuh cinta dan mengerikannya jatuh cinta lalu sekarang ... semua berubah dalam sekejap mata saja.

[...]

Setelah mengantarkan Nisa ke sekolah, aku langsung tancap gas ke salah satu proyek rumah yang sedang kukerjakan belakangan ini. Kenapa kesana? Ya, kenapa tidak? Toh aku dapat menggoda para gadis muda yang sedang berangkat kerja atau kuliah ketika diri ini senggang disana.

Tetapi, saat membelah jalanan menggunakan Acura NSX-ku yang notabene keluaran tahun 2015, jalan utama sangat macet dan membuatku tak banyak pilihan selain bersabar menghadapi asap polusi dan suara klakson motor orang lain.

Ngomong-ngomong, saat kejadian seminggu yang lalu atau banyak orang memanggilnya ‘Cahaya Senja pertanda Kiamat’ itu sangatlah indah. Maksudku, siapa juga yang tidak berpikiran sama ketika melihat satu ledakan cahaya putih yang kemudian disusul oleh beberapa cahaya berwarna lain seperti sebuah parade kembang api itu? Semua setuju kan?

Dan sehari setelahnya, banyak orang mengeluhkan bahwa tubuh mereka langsung lemah atau letih berlebih hingga tidak sedikit yang meminta ijin untuk beristirahat dirumah alias cuti sejenak. Yah, karena kejadian itulah semua proyek-ku yang berjalan mengalami penundaan sekitar tiga hari.

Mengesampingkan hal itu, ada satu lagi fenomena luar biasa yang sangat diluar nalar terjadi pada tubuh manusia itu sendiri. Mereka secara tidak sengaja mengaktifkan ‘kotak pandora’ yang terbelenggu dan tersegel jauh dalam jiwa mereka.

Sihir yang biasa ada di dunia fantasi, komik remaja dan novel tiba-tiba menjadi nyata. Mereka semua mampu menggunakan bermacam sihir menakjubkan yang membantu keseharian manusia.

Kalian ingin contoh mudahnya? Tepat saat ini, aku melihat seorang ibu-ibu pengendara motor menaruh kendaraannya di sebuah penitipan kendaraan lalu terbang begitu saja seperti sosok pahlawan super di komik anak-anak.

Tidak hanya itu, ada beberapa ‘orang’ yang tiba-tiba berlari lebih cepat daripada mobil mewahku ini tanpa alas kaki — nah, kalau yang ini aku sangat dongkol karena merasa percuma punya mobil balap tapi jalanan macet luar biasa.

Kurasa aku — tidak, kami semua mendapatkan ‘berkah’ dari-Nya pada saat ini juga. Kemampuan diluar akal logika yang tiba-tiba muncul begitu saja langsung mengubah tatanan dunia.

Oh, dan selama narasi tadi, aku sudah berada di salah satu proyek-ku yang berada di jantung kota Surabaya — atau apalah itu namanya.

Sebuah proyek gabungan untuk membuat satu mall besar selain yang sudah ada di Mojokerto yang bersebelahan dengan mall lain. Saat ini aku telah keluar dari mobil dan melihat beberapa tukang atau buruh kasar mengangkat plat baja atau tulangan besi dengan satu tangan — padahal satu dari mereka memiliki berat hampir ratusan kilo.

‘Kurasa perusahaan kendaraan berat akan segera tutup bulan ini ... hehehehe.’

Yah, itu sih bukan masalah karena sejak awal perusahaan kecil milik keluargaku lebih condong ke memanfaatkan kemampuan manusia dibantu alat ketimbang memanfaatkan kecanggihan teknologi sekarang.

Jika kalian bertanya kenapa, maka aku hanya perlu menjawabnya dengan ‘pengiritan uang’. Mungkin itu dua kata yang pas untuk pertanyaan kalian.

“Loh, tumben Mas Dhaniy kesini pagi-pagi,” salah seorang kuli bangunan menyapaku.
“Iya, biasanya kan waktu istirahat baru kesini.” Seorang temannya yang masih mengunyah nasi dan sayur oseng-oseng kangkung menambahkan.
“Tadi habis mengantar adik ke sekolah,” tuturku sopan. “Oh ya, kayaknya sudah hampir jadi ya ini? Cepat juga.”

Menyapu pandangan dari kafe yang kukerjakan dengan kafe lain yang belum jadi, rasa bangga tiba-tiba langsung menyelimuti hati dan tak sadar senyum pun ikut terlukis di bibirku, membuat dua kuli yang sedang makan itu ikut senang.

“Bos, nanti kalau proyek ini selesai, mobilnya saya kembalikan ya?” si tukang yang tadi makan tiba-tiba unjuk suara setelah hening sejenak.
“Lah? Kenapa? Kan enak toh, bisa—
“Bu-bukan gitu, Bos.” Sahutnya cepat. “Sebenarnya, di kampung, saya jadi agak sungkan sama tetangga, istri saya jadi bahan omongan, Bos.” Tuturnya dengan wajah muram.

Melihat itu aku hanya bisa tersenyum masam. Untuknya yang sudah berada di kalangan menengah ke bawah selama hidup, perubahan besar seperti saat ini membuat si kuli yang pekerja keras ini makin ciut nyalinya menghadapi kejam dunia.

“Ya udah, deh.” Jawabku sopan. “Saya kasih alamat ini, nanti kalau semua sudah beres, tolong parkirkan mobil saya disana, oke pak?” ujarku memberi solusi.

Yah, sebenarnya sih ini satu diantara masalah yang biasa terjadi ketika berada dalam lingkup kerja dengan proyek besar seperti ini tapi ... bagaimana lagi? Kalau tidak ada mobil untuk angkut barang, masa iya diangkut sendiri memakai tangan?

“Bos, maaf nih, saya mau tanya,” ujar si teman kuli berhati-hati.
“Tentu, apa?”
“Um ... ini yang kejadian minggu kemarin itu loh, yang ada cahaya di langit kan.” Tuturnya agak pelan. “jadi saya bingung, kok tadi pagi saya kena setrum gak mati ya? Padahal baju saya sudah kayak gini loh, Bos.” Sambungnya sambil menunjukkan kaos oblongnya yang robek-robek tak karuan.
“Walah—!! Kok bisa kayak gitu?! Aje gile, kang—!!” sambarku spontan.

Kaos oblong yang sudah lusuh itu makin seperti kain lap yang tidak dicuci tapi tetap dipakai terus hingga tak berbentuk. Saat aku menanyakan apakah ada yang salah dengan tubuh kuli-ku ini, dia hanya menjawab, ketika dia dekat dengan alat listrik atau kabel, ia bisa merasakan bahwa dirinya mampu menghidupkan peralatan tersebut hanya dengan menggunakan tangan alias disentuh.

Dan benar saja, ketika aku menyerahkan ponsel pintarku yang sudah sekarat kepadanya, tiba-tiba layar hitam itu langsung memunculkan tanda bahwa alat elektronik tersebut sedang diisi ulang.

“Oke, kang. Ini mungkin panjang ceritanya tapi ... intinya, akang punya sihir mandraguna petir atau listrik.” Tuturku singkat yang malah membuatnya kebingungan. “Pokoknya akang itu jadi manusia listrik deh, jadi lebih greget!” sambungku sambil mengacungkan jempol.

Dia hanya mengangguk pelan seakan mengerti sambil melihat ponsel pintar milikku yang digenggamnya terus mengisi daya. Seakan tahu kekuatan baru didalam dirinya, kuli ku tadi langsung berdiri lalu menatapku penuh semangat.

“Kalau begitu, Bos!” ucapnya terhenti karena senyum lebar menghias wajah tuanya. “Di rumah nanti, saya gak perlu PLN dong buat nyalain listrik?!” ia mengatakan itu dengan amat sangat teramat bangga.

Sementara aku hanya bisa tertawa kering sebelum meminta ijin untuk pergi dari mall ke tempat lain, kedua kuli-ku tadi saling mengobrol tentang kekuatan yang mereka dapatkan secara misterius setelah kejadian seminggu yang lalu.

Semua tampak senang dengan kemampuan supranaturalnya masing-masing tetapi entah kenapa ketika melihat kemampuan itu diperlihatkan langsung kepadaku ... aku merasa iri.

Diantara mereka yang beruntung, pasti ada satu atau dua orang yang terluka atau tidak beruntung dan pada masalah ini, akulah orangnya.

Mampu menyemburkan api, memakai listrik untuk mengisi ulang daya alat elektronik, memiliki kekuatan mengangkat benda terberat di bumi dan yang lainnya ... diantara kemampuan mengagumkan itu ada aku yang tetap menjadi manusia biasa.

Setelah kejadian itu, aku tidak merasakan ada yang berbeda dari tubuh ini sedikitpun. Tidak ada gejala aneh — bahkan ketika hampir seluruh manusia terserang keletihan berlebih, aku masih sehat dan tetap bekerja seperti biasanya.

‘Ah, sebegitu bencinya kah Tuhan terhadapku?’

Tapi tak apa, meski tidak memiliki kekuatan supranatural, setidaknya orang masih tetap ramah dan segan terhadapku dan itu sudah cukup. Tidak perlu mengejar dunia terlalu serius karena kita semua tahu bahwa sehebat apapun kita, tetap akan mati pada waktunya.

Selain itu, karena jalanan kini menjadi agak lenggang akibat orang-orang berkemampuan supranatural — aku bisa memacu Acura NSX-ku hingga kecepatan 120 kilometer perjam dan itu hebat! Maksudku, tidak ada polisi yang menilang karena laju kendaraanku ini.

Mereka terlalu sibuk dengan perubahan hidup mereka yang terlalu drastis dan mencolok yang membuat hampir semua orang kegirangan akan fase baru itu. Sementara aku yang sedang membelah aspal hitam diatas tanah ini hanya bisa tersenyum masam menghadapi kenyataan berat.

[...]

Membutuhkan waktu 15 menit untuk ke Institut Agama Islam Negeri atau biasa disingkat sebagai universitas IAIN dari mall yang sedang aku bangun di Wonokromo. Percaya atau tidak, kemampuanku mengemudikan sebuah kendaraan — apapun itu, seperti menaiki Buroq atau yang biasa disebut kendaraan rasul terakhir dalam agamaku.

Yah, tidak bermaksud melebihkan, tetapi kata banyak temanku sih begitu jadi ... mau bagaimana lagi kan? Seorang pembalap atau apapun itu adalah orang yang diakui banyak orang, bukan mengakui diri sendiri.

Dan karena hal itu pula aku agak risih ketika ada klien yang tahu akan reputasiku yang selalu tepat waktu atau bahkan datang lima belas menit sebelum pertemuan dimulai. Bagaimana ya? Seperti ada beban berat ketika aku hampir telat atau tidak memenuhi ekspektasi mereka.

Cukup sampai disana saja curhat kali ini karena aku sudah berada di parkiran mobil universitas. Saat ini, beberapa mahasiswa baru sepertiku pasti sedang ada di gedung serbaguna untuk pelajaran biasa yang membosankan setelah orientasi awal atau MOS.

Jujur, sebenarnya sih bisa saja aku membeli ijazah disini menggunakan uang tabungan karena jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan mengikuti kelas dan hal merepotkan lainnya tapi — bagaimana aku bisa menceritakan pada orangtuaku yang sangat ingin melihat diri ini lulus menggunakan topi sarjana tanpa melalui lika-likunya?

Lagipula, alasan lain yang sama kuatnya dengan yang pertama milikku adalah karena ada beberapa mahasiswi cantik yang bisa ditargetkan untuk menjadi pendamping hidupku nanti.

Dan juga, ada beberapa alasan lain yang tidak akan aku sebutkan karena daftarnya sangat amat teramat panjang dan pasti membuat kalian semua bosan mendengarkannya.

“Oh, Assalamu’alaikum, Dhaniy.” Seorang gadis menyapa dari belakang.

Suaranya yang merdu dan sangat familiar itu membuatku langsung menoleh kepadanya dan mengembalikan senyum manis tersebut sebisa mungkin.

Namanya adalah Linda Nur Jannah, seorang gadis tinggi berparas cantik dengan senyum mempesona yang dapat mencerahkan jiwa tiap insan yang ditemuinya.

Hari ini dia menawan, sama seperti hari-hari lainnya. Blouse berlengan panjang yang menutup aurat berwarna biru laut itu tampak indah dipadukan dengan celana hitam polos yang tak begitu ketat miliknya.

Tak lupa dia mengenakan jilbab Syar’i putih yang sangat elegan namun sederhana. Meski hanya mengenakan lip gloss krem dan bedak tipis, banyak pasang mata dari laki-laki yang curi pandang terhadap penampilan Linda.

“Oh, Wa allaikum salam, Lin.”

Ia tersenyum setelah aku membalas salamnya, wajar. Akan tetapi, yang membuatku bingung adalah Linda seperti sedang menungguku untuk melakukan hal selain menatap wajah indahnya yang seperti bidadari itu.

“Oh ya, gak ada kelas? Kok keliaran disini?” ucapku memulai percakapan.
“Hehehe, bukannya gak ada, cuman belum waktunya kok.” Ia menjawab manis. “Kamu sendiri? Tumben masuk pagi, biasanya kan kuliah sore atau malam.” Sambungnya yang membuatku heran.

Sejak kapan dia tahu kebiasaanku mengambil kelas sore atau malam? Ah, mungkin saja dia tidak sengaja berpapasan denganku ketika membeli bahan makanan atau apapun itu namanya ketika diri ini sedang bersiap menuju universitas, kan?

“Ya, begitulah.” “Hei, ustadzah yang baik gak bakal keluyuran pagi-pagi kayak gini loh, mau aku temani sebentar buat ngopi atau sarapan?”

Sekilas senyum sempat merekah di bibirnya tapi langsung ditepis begitu saja ketika aku menyadari tingkah Linda yang agak aneh belakangan ini. Sempat berpikir untuk menarik perkataan tapi semua itu kalah cepat daripada anggukan gadis indah di depanku ini.

“Ayo, ayo! Tapi kamu ya yang bayarin aku? Ya, ya?” ia mengatakan itu dengan semangat membara dan mata berbinar-binar.

Melihat sisi lain dari seorang primadona se universitas membuatku kadang bersyukur sekaligus tidak tahu harus berbuat apa. Linda sebenarnya bukanlah seorang gadis yang suka ditraktir oleh orang asing tapi entah kenapa, sebagai teman masa SD-nya yang hingga kini masih bertegur sapa, kehangatan jiwa saat mengobrol dengannya sangatlah tidak ternilai.

Ketika kami sampai di kantin kampus, sebagai seorang pria akulah yang harus mencari tempat untuk duduk dan mengobrol sementara Linda memesan makanan dan minuman untuk berdua.

Sekilas tapi samar, keberadaan kami berdua sangatlah mencolok. Maksudku, diantara seribu lebih lelaki yang menimba ilmu sekaligus mencari jodoh di universitas ini, hanya aku saja dan beberapa orang lain yang beruntung dapat berbicara dengan primadona universitas.

“Maaf menunggu, nih! Cappucino seperti biasa kan?” tuturnya sambil menyodorkan sebuah gelas berisi pesanan yang bahkan aku belum pikirkan.
“Lin, boleh aku tanya sesuatu ke kamu? Ini nggak terlalu penting sih, tapi kalau bisa tolong dijawab jujur ya?” ucapku sambil memasang tampang serius.

Linda tampak gelagapan ketika aku membuat sesi ngobrol santai kami menjadi serius dan entah kenapa serasa ada awan hitam yang berkumpul dan menyesakkan paru-paru kami berdua saat bernafas — ah, para jomblo kurang belaian itu, mereka iri padaku.

“Te-tentu saja, pokoknya kalau tidak nyeleneh sih bakal aku jawab kok!”

Lampu hijau. Sekarang, tinggal menyusun kata yang tepat untuk tidak terlalu membuat gadis polos nan anggun ini terkejut dengan pertanyaan konyolku nanti.

“Sebenarnya ...” sial, kata-kataku terhenti di tenggorokan! Ah, bodoh! Keluarkan sajalah, diriku! “... dari dulu aku penasaran, apa kamu secantik ini?”

Setelah selesai mengatakan semua yang ada di pikiranku, Linda sepertinya harus mendapatkan beberapa detik untuk menjawab kekonyolanku ini dan saat ia sudah menangkap apa maksudku — mukanya langsung tersipu dan ditundukkan sambil tangan kirinya mencoba untuk menghentikanku agar melihat wajah imutnya itu.

“Ya-ya, maksudku, aku tahu kamu cantik, tapi entah kenapa waktu berpapasan denganmu entah kapan atau dimana ... rasanya kamu makin cantik tiap menitnya, deh.” Tuturku tulus.
“—Dha-dhaniy!!” sambarnya tiba-tiba. “Ka-kamu sadar kan apa yang barusan kamu bilang?!” ia mencoba bertanya tanpa menatapku.
“Tentu lah! Sadar se sadar-sadarnya! Aku nggak habis minum vodka atau oplosan kok! Gak sedikit pun!” aku menjawab mantap.
“Ka-kalau begitu ... a-aku ke kamar mandi dulu—!!” ia mengatakan itu sambil menggebrak meja.

Setelah Linda pergi, aku merasakan tatapan tajam menusuk yang mengarah kepadaku dari semua mata angin. Saat ini, pasti dan tidak diragukan lagi bahwa aku adalah orang paling dibenci oleh baik laki-laki maupun perempuan yang ada di universitas ini karena kesalah pahaman tadi.

‘Ck! Kurasa kalimatku salah, ya?’

Sedang asyik melamunkan apakah kalimat tadi menyinggung Linda terlalu banyak atau tidak, aku sendiri tak sadar akan dua orang laki-laki kampret yang biasa meminta uang ‘pajak’ pada mahasiswa baru sepertiku ini.

“Ouy, ouy!! Jangan kira karena elu kemarin-kemarin babat habis kita berdua, primadona universitas elu buat nangis, ye!!” salah satu dari mereka yang memiliki rambut bergaya Spiky dengan kaos oblong abu-abu dan jaket Cardigan biru sambil menggebrak meja.
“Iya tuh, bener! Kurang ajar banget!!” tambah temannya yang berambut Punk dengan tindik di hidung yang malah mirip tompel.
“Lah, kan cuman coba ngerayu doang, apa salahnya? Dasar jomblo kurang belaian.” Kilahku dengan sarkasme diakhir kalimat.

Kedua laki-laki itu makin berang karena sikapku yang acuh dan kurang ajar di mata mereka namun tak perlu ambil pusing karena satu-satunya cara yang bisa dipikirkan kroco berotak kecil seperti kedua orang di depanku ini hanyalah satu — beradu kekuatan.

“Brengsek!! Ngajak berantem, hah?!” bentak si tindik tompel, menggebrak mejaku lagi.
“... Loh, bukannya kalian berdua sudah pernah merasakan tinjuku? Masih belum kapok ya masuk rumah sakit sampai-sampai rawat inap? Kalian kan lemah banget.” Sahutku makin membuat suasana menjadi runyam.

Keduanya kehabisan kata-kata setelah aku menghancurkan harga diri mereka sekali lagi. Memang benar bahwa aku pernah melawan dua kakak kelas kroco yang sok jagoan ini dan mereka kalah — tapi sepertinya mereka belum menyerah juga sih.

Untuk memperpendek urusan, kami bertiga langsung keluar dari kantin dan mempersiapkan diri masing-masing untuk segera berkelahi.

“Anak kacung! Beraninya elu ngomong kayak gitu sama senior!!” si jaket Cardigan menghardik sambil menunjuk wajahku.
“Bakalan kita buat elu babak belur! Lihat aja!!” kini giliran si tindik tompel unjuk bicara.

Tak ada komentar dariku, setidaknya tidak ada selain tinju yang mengepal selaras di depan mata ditambah seringai kemenangan yang sudah pasti ku raih.


“... Nah, siapa diantara kalian berdua yang mau K.O duluan, hm?”

Sabtu, 28 Februari 2015

Riza Sang Gadis Pemurung

Judul : Riza Sang Gadis Pemurung
Author : Bloody Rose
Genre : Slice Of Life, Supranatural, Tragedy, Drama.


Dia selalu berada di pojokan gang sempit diantara toko kelontong dan apartemen tempat aku tinggal. Aku juga selalu mencuri pandang saat ia sedang asik membaca buku yang kelihatannya usang itu.

Saat itu, aku sedang berjalan pulang dari tempat kerjaku dan menemukan ia membaca buku.Gadis cantik berambut pirang dengan panjang sebahu itu terlihat seperti merenungi sesuatu.Aku mencoba untuk mengumpulkan keberanianku untuk berbicara padanya.

"Hai, boleh aku duduk disampingmu?" tanyaku sambil mencoba melirik parasnya yang indah.
"Tentu, silahkan."

Akhirnya aku berhasil duduk disampingnya. Namun, ada sesuatu yang sepertinya mengganggunya.

"Uh, aku Jonathan."

Aku mencoba memulai pembicaraan, namun sepertinya ia mencoba menghiraukanku.

"Uh, apa yang kau baca?" tanyaku sambil mencoba mendekatinya.
"Oh, ini adalah foto keluargaku."

Aku langaung terkejut ketika mendengar itu darinya. Aku tidak tahu, namun ia seperti merasa sedih ketika membolak-balik lembaran kertas usang itu. Aku mencoba untuk melirik buku usang yang ia baca, mencoba untuk memulai lagi pembicaraan.

"Riza, panggil aku Riza."

Aku agak terkejut ketika ia memberitahuku namanya. Akhirnya, ia bisa sedikit lebih terbuka untuk sebuah pembicaraan.

"Uh, siapa itu?"

Aku menunjuk seorang pria berkumis tebal yang kelihatannya seperti ayahnya atau... Suaminya yang mungkin telah tiada.

"Oh, orang ini adalah ayahku. Dia, dia meninggal tiga tahun yang lalu." Jelasnya.
"Uh, aku turut berduka."
"Heh, kau tidak perlu berduka untuk orang bejat seperti dia."

Aku agak heran ketika ia berkata bahwa ayahnya seorang yang seperti itu.

"Kalau boleh tahu, kenapa kau menyebutnya begitu? Tanpanya kau tidak akan lahir-...
"Aku berharap tidak dilahirkan darinya."

Aku menarik sebuah kursi kayu kecil untukku sendiri, sementara Riza duduk di ranjangku yang agak reot. Ia menarik nafas sebelum melontarkan satu kata pun, sementara aku menahan nafas karena rasa penasaran.

“Sebenarnya aku tidak mau menceritakan ini tetapi… sepertinya kau adalah orang yang baik.” Ucap Riza sambil menengok kearah luar jendela.

“Ya, ini semua bermula ketika ibuku bertemu dengan seorang laki-laki di sebuah bar kecil di kota ini. Lalu, mereka berdua bercengkrama hingga bar hampir tutup.”

“Ibuku adalah perempuan ini, cantik bukan?” ucap Riza sambil menunjuk seorang foto wanita yang wajahnya hampir mirip dengan dirinya sendiri.

“Ya, setidaknya sekarang aku tahu dari mana kau memiliki wajah cantik itu.” Sahutku yang membuat Riza tersipu.

Ia kembali bercerita tentang kehidupan keluarganya yang lumayan menyedihkan itu. Aku iba padanya, tidak kuketahui bahwa diriku harus bersyukur atas kehidupan normal yang di anugerahkan Tuhan padaku.

“Ayahku, ia adalah seorang pemabuk yang tidak tahu diri. Ia seorang pengangguran, namun ia tidak memiliki kemauan untuk keluar dari jabatannya itu dan memilih untuk menghabiskan uang yang didapatkan ibu dari bekerja di toko kelontong. Ia berjudi dan kalah, itu pun ia lakukan hampir setiap hari setelah ibuku mendapatkan gajinya.”

“Pada suatu saat, ibuku sedang mengandungku. Ia harus beristirahat karena aku akan lahir ke dunia tidak lama lagi. Tetapi, ayahku… ia tega menyuruh ibuku untuk bekerja meskipun ia tahu bahwa ibuku akan melahirkan.”

“Ke-kejam sekali dia…,” ucapku yang langsung bereaksi pada perkataannya.

“Maka dari itu aku membencinya. Aku… setelah aku lahir, ayahku makin sering melakukan kekerasan pada ibuku. Setiap malam ketika ia pulang dari kalah berjudi, ia melampiaskannya kepada ibuku.”

“Hingga,… ibuku tidak bisa menerima kehidupan itu dan pergi meninggalkan ayahku.” Tambah Riza.

Saat aku melihat kearah pipinya, sesuatu yang berkilau mulai turun dari pipi mulus tersebut. Ia menangis, mungkin kenyataan dari cerita itu lebih menyakitkan daripada saat ia menguntainya menjadi cerita untuk dibagikan padaku.

“Hei, Aku iba padamu. Jika… jika pun kau tidak ingin meneruskan ceritamu itu tidak apa, aku… tidak ingin melihatmu menangis karena mengingat masa lalumu itu.” Ucapku sambil menepuk pelan bahunya.

Ia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, layaknya seseorang yang meminta tolong ingin dikeluarkan dari jurang kenestapaan. Ya, tatapan mata itulah yang saat ini terpancar dari pupil berwarna coklat karamel milik Riza.

“Tidak, aku justru senang ketika kau mengatakan bahwa ingin mendengar cerita sedihku ini. Aku… dari dulu aku juga tidak punya seseorang yang spesial, bahkan aku merasa bahwa hidupku adalah sebuah kehampaan yang mestinya lenyap dari muka bumi ini.” Ucapnya sambil menundukkan kepala.

“Hei, jangan menangis oke? Nih,”

Aku menyuguhkan secangkir kopi padanya. Kemudian, ia meminum kopi itu sedikit demi sedikit dan akhirnya meletakkannya ke meja kecil sebelah ranjangku.

“Hujannya… tidak reda juga yah?” kata Riza sambil memandang hujan yang masih deras.

“Ya, kalau begini… aku harus membersihkan sebagian kamar dahulu.” Sahutku sambil beranjak dari kursi kecil itu.

Aku mulai mengambil beberapa kantung makanan kosong dan membuangnya ke tempat sampah, lalu melipat pakaian-pakaianku yang tergeletak di sekitar sofa dan ruang tengah.

“Uh, untuk apa? Aku akan pulang ketika malam datang.” Ucap Riza dengan wajah datar.

“Aku tidak mengijinkan, seorang wanita sepertimu akan melalui bahaya ketika berjalan malam-malam. Mungkin, akan ada orang yang ingin mencelakakanmu.” Sahutku sambil melirik kearahnya.

“Satu-satunya orang yang terlihat berbahaya untukku saat ini hanyalah kau, lagipula aku sudah terbiasa berjalan sendiri saat malam.” Ucapnya sambil mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.

“Terserahmu, aku sudah bilang bahwa aku adalah orang baik. Jadi, aku akan memaksamu untuk berteduh di sini hingga hujan reda.”

Ia pun termenung mendengar perkataanku. Kemudian, saat aku sedang sibuk merapikan pakaianku. Terdengar suara langkah kaki yang makin dekat, setelah itu ada sepasang lengan yang melingkari leherku dengan lembut.

“Kau tahu, aku bersyukur bertemu dengan orang sepertimu.” Bisik Riza yang membuat diriku bergidik.

Aku langsung terperanjat dari tempatku duduk dan menjauh beberapa senti darinya. Aku mengarahkan sebuah penggantung pakaian padanya sebagai pengganti senjata dan berlagak seperti seseorang yang sedang mengusir hantu.

“Hm? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Riza sambil memiringkan bibir.

“Kau mengejutkanku tahu!” jawabku yang agak kesal dengannya.

Setelah selesai merapikan kamarku yang terlihat mustahil. Aku pun kembali ke dapur untuk membuat telur dadar, sedangkan Riza menonton televisi dan melihat berita tentang ramalan cuaca hari ini.

“Huft! Sial, aku harus menginap disini untuk semalam.” Ucap Riza yang tak sengaja terdengar olehku saat akan mengantar makan malam ke meja dekat televisi.

“Eh? Mengapa?”

“Badai memburuk malam ini, jadi… terpaksa aku harus menginap.”

“Oh… kalau begitu, bagaimana kalau kau meneruskan ceritamu? Bukankah itu bisa menjadi sebuah pelarian untuk waktu yang membosankan ini?” usulku.

Riza pun mengangguk, setelah kita berdua menghabiskan makan malam di depan televisi bersama. Ia pun mengajakku untuk pergi ke kamar dan mendengarkan lanjutan kisah masa lalunya.

“Jadi, sampai dimana kita tadi?” tanya Riza saat membuka album fotonya.

“Uh,… kau dan ibumu meninggalkan ayahmu.” Jawabku dengan singkat.

“Oh, ya. Saat aku meninggalkan ayahku, hidupku dengan ibuku menjadi lebih baik. Ya, itu semua adalah kebahagiaan yang kudapatkan setelah menderita sekian lama.”
“Tetapi, itu semua tidaklah abadi. Suatu malam, ayahku yang entah darimana ia tahu tentang rumah kami itu menggedor-gedor pintu dan memaksa untuk masuk. Ia, meskipun ibuku meneriakinya dari dalam rumah agar pergi ia menghiraukannya.”

“Ayahku, ia berusaha untuk masuk ke dalam rumah entah apa maunya.” Lanjut Riza dengan wajah murung.

“Setelah ibuku muak mendengar teriakan bodoh ayahku, ia membuka pintu.”

“Lalu, apa yang dilakukan ayahmu?” tanyaku yang tidak sengaja menyela perkataannya.

“Dia, setelah ia masuk. Ia memarahi ibuku dan menamparnya. Ia… seakan ia melampiaskan kekesalannya pada ibuku. Ia, ia memukuli ibuku dan aku pun berusaha untuk melerai mereka.” Jelas Riza.

“Tetapi, karena aku tahu bahwa diriku kurang kuat untuk menjauhkan ayahku yang dengan kejinya memukuli ibuku itu. Aku pun mengambil sebuah pemukul baseball, itu… aku memukul punggungnya dengan keras hingga ia menjerit kesakitan.”

“Lalu, saat ia melihatku dengan tatapan mengerikannya. Aku pun menghajarnya tepat di wajah dan membuatnya terpental beberapa senti menjauhi ibuku yang kesakitan.”

“Dengan itu ia pun keluar dari rumah kami dengan luka lebam di wajah. Aku, aku langsung melihat keadaan ibuku namun ketika aku melihatnya… dia… dia sudah tidak bernafas.” Jelas Riza yang lagi-lagi meneteskan air mata indah.

“Maaf, aku tidak tahu bahwa kau… begitu sengsara.” Ucapku saat menyodorkan selembar tisu.

Entah kenapa aku merasa bahwa Riza adalah seseorang yang sangat menyedihkan. Ia memiliki masa lalu yang lebih menyedihkan daripada aku, dan dia masih bertahan didalam bayang-bayang masa lalu tersebut.

“Saat itu, saat pemakaman ibuku… hanya beberapa tetangga yang hadir disana. Aku menangis keras diatas kuburannya. Aku merasa tidak berdaya ketika ibuku meninggalkan aku sendiri, aku… sangat ingin mengakhiri hidupku saat itu.”

“Tetapi, aku tahu bahwa ibuku akan menghukumku jika aku bunuh diri dan bertemu dengannya di surga. Jadi, aku… dengan itulah aku bertahan sampai saat ini.”

“Lagipula, ayahku juga menyusul ibu yang sudah menunggu di surga.” Tambahnya dengan senyum kecil sinis.

“Eh? Apakah-,…

“Ayahku mati ketika ia berusaha merampok sebuah toko kelontong. Ia,… tubuhnya berantakan ketika ia tertabrak dan terlindas sebuah truk pengangkut minyak .”

“Mengerikan…” sahutku dengan nada lirih.

“Hah! Pria sepertinya memang layak mati seperti itu! Dialah yang membawaku terlahir di dunia ini dan menderita! Dia… dia… dia pantas mendapatkannya!” bentak Riza sambil menggenggam erat tisu yang kuberikan padanya.

“Hei, meskipun begitu-…

“Apa? Bersyukur?! Apa yang harus kau syukuri darinya?!” bentak Riza dengan banjir air mata.

Aku merasa bodoh, kenapa diriku berkata seperti itu dan yang terpenting kenapa aku tidak mengetahui perasaannya saat ini. Aku merasa bersalah, dan aku ingin menebusnya dengan caraku.

“Ya, setidaknya kau bersyukur untuk apa yang diberikan Tuhan padamu. Kehidupanmu, keteguhanmu untuk melewati semua itu. Itulah… yang harusnya kau syukuri.” Jelasku sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.

Seketika itu, aku merasakan bahwa badai sudah lama berhenti. Namun, karena sudah terlalu malam. Riza pun menginap di kamarku, dia tidur di ranjang sedangkan diriku tidur di sofa.

Kami berdua pun tertidur lelap hingga mentari pagi yang sangat terik dan menyilaukan membangunkanku dari tidur. Aku pun dengan malas beranjak dari sofa dan hendak ke kamar untuk membangunkan Riza.

Namun, ketika aku sampai dan membuka selimut. Riza telah tidak ada, ia mungkin sudah pergi dari pagi.

‘Eh? Ini kan…’

Aku dengan tidak sengaja menemukan album foto yang selalu dibawa oleh Riza. Dengan cepat aku mengambil album tersebut dan berlari keluar kamar, siapa tahu dia berada diluar apartemen dan sedang mencari album foto yang kugenggam.

“Eh? Kenapa tidak ada? Dimana dia?”

Tak lama kemudian, ada sebuah tangan yang meraih bahuku dari belakang. Suaranya sangat kukenal, seketika aku pun berbalik menuju ke sumber suara tersebut.

“Eh, ibu Hanner. Uh… apakah ibu melihat seorang wanita yang biasanya duduk dan membaca buku di bangku ini?” tanyaku pada seorang ibu-ibu berkulit kulit masam dan agak gemuk.

“Eh? Oh… maksudmu Riza?” jawab bu Hanner setelah jeda beberapa menit untuk mengingat siapa yang aku tanyakan.

“Ya! Itu dia! Apa ibu melihatnya?”

“Heh?... bukannya dia sudah meninggal tiga bulan yang lalu?” timpal bu Hanner yang mengejutkanku.

Aku terperangah ketika bu Hanner mengatakan bahwa Riza yang kemarin malam menginap di kamar apartemenku itu adalah seorang hantu yang sudah meninggal tiga bulan yang lalu.

“Ta-tapi… dia kemarin malam menginap di kamarku!” ucapku dengan nada agak tinggi.

“He!~… apa yang… mungkin benar rumor itu, ia masih menghantui beberapa penghuni apartemen ini untuk mengatakan sesuatu.” Sahut bu Hanner dengan mengernyitkan alis.

“Oh,… jadi, ya. Aku tahu apa yang ingin dia katakan, dan… mungkin ini adalah hadiah untuk mendengarkannya.” Jelasku sambil membuka lembaran dalam album foto yang biasa dilihat oleh Riza.

“Ah!, album itu… dia selalu melihatnya dan menangis, aku tidak pernah lupa karena itulah yang ia lakukan sebelum ia meninggal.” Timpal bu Hanner sambil menunjuk album yang aku pegang.

“Bu Hanner… bisakah ibu… mengatakan sebab Riza mati?”

“Dia gantung diri, dalam surat wasiatnya… ia berkata bahwa suatu saat ia akan pergi ke surga dan berkumpul dengan ibunya lagi, aku sangat sedih waktu itu… sayang sekali, padahal ia adalah wanita yang baik.” Jawab bu Hanner sambil terisak.

Setelah itu, ada sebuah angin semilir yang menerpa wajahku. Sebuah bisikan dari seseorang yang telah mati terdengar samar oleh telingaku, seakan ia berusaha mengucapkan sesuatu padaku.

Aku berbalik menuju sumber suara itu dan menemukan Riza dengan gaun hitam sedang duduk di bangku yang biasa ia gunakan untuk melihat album keluarganya, ia tersenyum lebar ketika melihatku menangisinya.

“Terima kasih, telah mendengarkan cerita bodoh dan menyedihkanku ini… Jonathan…,” bisiknya saat ia perlahan mulai lenyap dari muka bumi ini.